Kebijakan Indonesia terhadap Afrika Selatan HUBUNGAN POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA-AFRIKA SELATAN
Kebijakan Indonesia terhadap Afrika Selatan
HUBUNGAN POLITIK LUAR NEGERI INDONESIA-AFRIKA SELATAN
Dewi Puspita dan Qomarul Laili
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Abstract
Africa is the continent that has the widest area of the number two in the world after Asia. Africa has a lot of potential-potential in establish full diplomatic relations with Indonesia, the potentialities are: qualified resources, a wide area, but Africa has its disadvantages, namely human resources inadequate. It may trigger other countries especially Europe to dig deeper into the potential that exists in Africa. Brief history, the Europeans also have their own special attraction towards the African continent, in particular the interest associated with the existing natural resources in Africa. For the fulfillment of the needs of Central European estates developed, Africa became the arena of seizure of political influence, economic, natural resources and also of slavery. This triggered the attention of developing countries to engage Africa to build a relationship of mutually beneficial cooperation between the two parties. Indonesia became one of the developing countries that have political goals abroad to meet with interest efforts according to include Africa in concentric circles of politics abroad Indonesia. In this paper, the author will be commenting on the background of relations with Africa and Indonesia discuss about diplomatic relations and cooperation between the two parties, namely the strategic partnership in the New Asian-African Partnership (NAASP).
Keywords: Indonesia, South Africa, diplomatic, cooperation
Diplomasi Indonesia- Afrika Selatan
Hubungan Diplomatik suatu negara adalah hal yang sangat penting untuk menjalin kerjasama yang baik dalam hal ekonomi, sosial, politik juga budaya. Hubungan Internasional adalah hubungan antara dua atau lebih mencakup berbagai macam hubungan atau interaksi yang melintasi batas-batas wilayah negara dan melibatkan pelaku-pelaku yang berbeda kewarganegaraan, berkaitan dengan segala bentuk kegiatan manusia. Hubungan ini dapat berlangsung baik secara kelompok maupun secara perorangan dari suatu bangsa atau negara, yang melakukan interaksi baik secara resmi maupun tidak resmi dengan kelompok atau perorangan dari bangsa atau negara lain (Teuku May Rudy, 2005 : 3). Diplomasi sangat bergantung pada siapa yang dapat memberi energi postiif pada hubungan bilateral maupun multirateral suatu negara. Sepeti halnya Afrika yang setenarnya merupakan negara ketiga yang dianggap tidak dapat berkontribusi lebih untuk masyarakat dunia. Namun hal tersebut ditentang keras oleh sebagian negara yang percaya bahwa negara ketiga tidak selalu menjadi negara yang tidak dapat berkontribusi. Indonesia selaku salah satu negara berkembang percaya bahwa, Afrika yang memilki semuanya dapat di eksplorasi dengan baik jika memilki suatu kerjasam yang baik dan saling menguntungkan. Karena dulunya negara-negara di Afrika ini merupakan negara ‘perbudakan’ sebagian besar bangsa eropa memang memandang rendah Afrika. Namun tidak mengelak jika bangsa eropa pun juga tertarik pada sumber daya alam nya yang melimpah juga luas wilayah yang dimiliki afrika. Dari sisi ekonomi Afrika memang kurang berkembang dikarenakan Afrika juga benua yang banyak dihuni negara yang kurang memadai dari segi politik ekonomi nya. Hubungan bilateral Indonesia-AfSel mendapati kemajuan yang baik, serta kedua negara juga saling menguntungkan satu sama lain. Di sisi lain perkembangan industri Afrika sendiri semakin melaju pesat seiring hubungan diplomatik nya dengan negara-negara lainnya. Diplomasi yang menjadikan suatu negara tersebut berkembang lebih baik jika dalam kekuatan kerjasamanya dapat diandalkan keberadaannya. Selain daripada itu faktor wilayah juga menunjang mengapa Indonesia dalam kebijakan luar negeri saat ini lebih fokus kepada Afrika, lebih dari itu dikarenakan memang adanya suatu usaha untuk lebih menggali lebih sumber daya alam yang dipunyai oleh Afrika Selatan itu sendiri. Indonesia pun tidak kalah bersaing untuk unjuk kemampuan diplomasinya dengan memamerkan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia.
Hubungan Indonesia dengan Afrika memiliki dua bagian yaitu:
a.Tataran Bilateral, Indonesia terus secara berkesinambungan memelihara dan meningkatkan hubungan dengan Afrika. Indonesia saat ini telah membuka hubungan diplomatik dengan 40 negara di Afrika dan telah memiliki perwakilan RI di 17 negara Afrika (11 di Sub-Sahara Afrika dan 6 di Afrika Utara/Maghribi).
b.Tataran Multilateral, Indonesia telah memprakarsai Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (NAASP), yang diharapkan dapat menjadi jembatan kerjasama antara kedua kawasan. Indonesia hingga saat ini telah melaksanakan 26 program kerjasama di bawah kerangka NAASP yang mayoritas ditujukan untuk pembangunan Afrika.
Hubungan Bilateral Indonesia-Afrika Selatan
Dimulainya hubungan diplomatik Indonesia-Afrika Selatan dimulai pada 12 Agustus 1994 dengan ditandatanganinya Joint Communique oleh Wakil Tetap perwakilan dari Indonesia maupun Afrika Selatan. Kemudian hubungan bilateral tersebut berjalan dengan baik dengan adanya saling kunjungan kedua negara oleh perwakilannya masing-masing. Hal tersebut menambah hubungan yang erat antara kedua negara. Tidak sekali dua kali kunjungan antar Indonesia dan Afrika Selatan, namun sudah beberapa kali dan dilakukan oleh para presiden juga terdahulu hingga kini. Itu menunjukkan bahwa diplomatik antar benua dapat berjalan dengan baik seiring dengan berkembangnya zaman. Diplomasi yang berjalan dengan tidak lepas oleh masa lalu Indonesia sendiri terhadap Afrika Selatan, dulunya Indonesia merupakan salah satu negara yang menentang secara konsisten mendukung perjuangan rakyat Afsel dalam menolak pemerintahan Apartheid. Hal ini ditandai dengan kehadiran wakil dari African National Congress (ANC), Mosen Kotane dan Moulvi Cachalia, sebagai observer pada KTT Asia-Afrika tahun 1955 di Bandung.Apartheid sendiri merupakan politik diskriminasi warna kulit, hal tersebut menyebabkan penduduk asli Afrika sendiri menjadi terpinggirkan oleh adanya politik tersebut. Dikarenakan juga Bangsa eropa yang menjajah afrika merupakan alasan kuat mengapa diskriminasi kulit tersebut terjadi. Nelson Mandela sebagai tokoh ANC dan Presiden pertama Afrika Selatan pasca- Apartheid (1994-1999) mempunyai special attachment pada Indonesia. Mandela telah berkunjung ke Indonesia sebanyak empat kali (1990, 1994, 1997 dan 2002). Mandela juga dikenal sebagai tokoh dunia yang secara tidak langsung memperkenalkan batik yang terkenal dengan sebutan Madiba Shirt di Afrika Selatan.
Kerjasama Indonesia – Afrika Selatan
1.Indonesia dan Afsel memiliki mekanisme konsultasi bilateral berupa Sidang Komisi Bersama (SKB), Joint Trade Committee (JTC) dan telah menandatangani sejumlah Perjanjian dan MoU di berbagai bidang: i) Pembentukan SKB; ii). Pembentukan Joint Trade Committee; iii). Perdagangan; iv). Pertanian; v). Pertahanan; vi). UKM; vii). Budaya; viii). Transaksi keuangan; ix). Perhubungan Udara; x). Perpajakan; xi) Ristek; xii). Pengembangan Kebijakan.
2. SKB ke-1 pada tingkat Senior Official Meeting (SOM) diselenggarakan di Batam, Indonesia tanggal 25–26 Februari 2008. Dalam Draft Pembaruan MoU Pembentukan SKB RI-Afsel, kedua pihak sepakat untuk meningkatkan status SKB tersebut dari Tingkat SOM menjadi Tingkat Menlu.
3. Pada pertemuan bilateral Menlu RI-Menlu Afsel tanggal 6 Februari 2017 di Cape Town, disepakati bahwa pertemuan tersebut merupakan SKB ke-2 kedua negara.
4. Sementara itu, Joint Trade Committee (JTC) telah dilaksanakan dua kali pada tahun 2006 di Afsel dan tahun 2012 di Indonesia. Pertemuan JTC ke-3 akan dilaksanakan pada 21 Juli 2017 di Pretoria, Afsel.
5. Afsel merupakan satu-satunya negara Afrika yang memiliki kesepakatan Kemitraan Strategis dengan Indonesia, suatu kemitraan yang disepakati melalui Joint Declaration on a Strategic Partnership for a peaceful and Prosperous Future Between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of the Republic of South Africa pada 17 Maret 2008. Sejak 2014, kedua Menlu menyetujui untuk membentuk Plan of Action (PoA) Kemitraan Strategis yang berlaku selama 5 tahun dan telah ditandatangani di hadapan kedua Kepala Negara pada waktu Kunjungan Kenegaraan Presiden Jacob Zuma ke Indonesia pada Maret 2017.
Perkembangan dan dinamika ekonomi politik Afrika dalam beberapa tahun terakhir ini tampak demikian menarik. Terutama pasca terjadinya krisis ekonomi baik di Amerika Serikat (2008) maupun di Eropa (2011), maka perkembangan ekonomi–politik dan dinamika Afrika telah dilihat sebagai alternatif baru bagi kepentingan pasar dan ekonomi negara negara Emerging Markets seperti China dan India. Khususnya negara–negara tersebut berkepentingan atas 2 komoditas utama (energi dan tambang) yang masih demikian potensial sumbernya di benua Afrika umumnya. Hal–hal yang telah dilakukan China dan India secara intensif dan cukup dominatif menggantikan peran kuat Amerika Serikat dan Eropa selama ini. Dinamika tersebut juga diikuti dengan aktor – aktor baru lainnya dalam hal kepentingan ekonomi dan pasar dari Brazil, Rusia, Singapura, Malaysia dan Thailand atas Afrika. Perhatian maupun kepentingan ekonomi 5 negara terakhir tersebut tidaklah sama pengaruhnya dengan China dan India di Afrika, namun mereka sadar bahwa Afrika pada 2012 perlu dlihat sebagai potensi pasar, ekonomi dan sumber daya alamnya yang demikian strategis (Djafar: 2012).
Namun demikian potensi dan peluang Indonesia untuk mengembangkan atas kesempatan ekspor non migasnya ke Afrika masih sangat besar. Karena para pemimpin Afrika Sendiri tampaknya menyadari bahwa persoalan perdagangan luar negeri dan hubungan kerja sama ekonomi dengan pihak lain harus diikuti oleh perubahan yang konstruktif dan mendasar sifatnya. Masa transisional Afrika lainnya yang menjadi kondisi dasar bagi Indonesia dalam hubungan ekonomi dengan negara – negara di Afrika (Zainudin Djafar, 2012: 12).
Tantangan dari proses transisi atas kondisi perekonomian negara-negara Afrika tampaknya masi dalam lingkaran setan dan tahap perkembangan. Pengalaman masa lalu telah menunjukan berbagai penyalahgunaan kekuasaan, perang saudara, dan kekerasan kehidupan perpolitikan di berbagai negara di Afrika dapat sewaktu-waktu mengorbankan pemerintahan yang bersifat demokratis, alhasil hanya satu negara yakni Afrika Selatan yang kini bisa dianggap proporsional dan kredibel sistem ekonomi-politiknya sampai akhir-akhir ini.
Kerjasama Ekonomi Indonesia – Afrika Selatan
Pada saat ini, kerjasama Internasional di bidang ekonomi telah berkembang pesat, khususnya kerjasama yang menyanglut tentang perdagangan internasional. Perdagangan internasional adalah kegiatan jual beli barang dimana penjal dan pembeli berada di negara yang berbeda, agar penjual dan pembeli dapat bertransaksi, mereka harus melintasi batas negara mereka masing-masing. Dahulunya, transaksi dalam perdagangan internasional dapat dikatakan sulit serta memakan biaya yang tinggi sehingga penjual dan pembeli sama-sama kesusahan untuk menjual atau membeli barang yang diinginkan. Namun hal tersebut tidak berlangsung lama sejak era globalisasi perkembangan teknologi menjadi sangat pesat dan hal ini dapat mempermudah negara-negara di dunia untuk menjalankan kerjasama dalam perdagangan internasional. Tidak hanya itu, pesatnya perkembangan teknologi juga dapat meningktkan kerjasama internasional dalam berbagai bidang yang dapat menyokong pembangunan nasional di masing-masing negara.
Pada awalnya hubungan perdagangan hanya terdapat pada suatu wilayah di negara tertentu, tetapi karena berkembangnya arus perdagangan yang semakin pesat maka hubungan perdagangan tersebut tidak hanya dilakukan oleh para pengusaha di dalam satu wilayah negara saja, tetapi juga para pedagang di wilayah negara lain, termasuk Indonesia-Afrika salah satunya.
Kerjasama Indonesia dan Afrika Selatan dapat mendukung potensi ekonomi masing-masing untuk dapat mewujudkan terbentuknya hubungan bilateral antara kedua negara dan kerjasama tersebut tidak hanya dalam bidang politik, tetapi juga pada bidang ekonomi dan social budaya. Terdapat dua jenis kerjasama yang dikategorikan sesuai dengan tingkatannya, yaitu:
a. Kerjasama dengan level setara atau berimbang : Kerja sama level setara merupakan kerjasama yang dilakukan oleh negara – negara yang memiliki kapasitas sumber daya alam, sumber daya manusia dan lain-lain dengan taraf yang setara, misalnya kerjasama antara negara berkembang dengan negara berkembang atau negara maju dengan negara maju.
b. Kerjasama dengan level yang tidak setara atau tidak berimbang : Kerjasama level tidak setara merupakan kerjasama yang dilakukan oleh negara-negara yang memiliki tingkat sumber daya alam, sumber daya manusia yang tidak setara dan negara-negara ini juga memiliki karakteristik yang berbeda, misalnya adalah kerjasama antara negara maju dengan negara berkembang.
Kategori kerjasama Indonesia dengan Afrika Selatan termasuk dalam kategori kerjasama yang pertama. Indonesia dan Afrika merupakan negara yang sama-sama berkembang dan keduanya saling membutuhkan satu sama lain untuk upaya peningkatan dalam mempererat hubungan yang telah terjalin. Pada mulanya, kerjasama Indonesia dengan Afrika Selatan lebih terfokus pada bidang politik, namun sejak terbentuknya NAASP, kerjasama Indonesia dengan Afrika juga terfokus pada kerjasama di bidang ekonomi, khususnya perdagangan.
Kerjasama Indonesia dan Afrika dalam bidang perdagangan internasional lebih berfoukus pada ekspor-impor non migas (bukan merupakan energi tetapi barang-barang jadi atau mentah ). Potensi dan peluang Indonesia dalam mengembangkan ekspor non migasnya ke Afrika sangat besar. Hal ini di dukung oleh kesadaran para pemimpin di negara-negara Afrika mengenai persoalan perdagangan luar negeri serta hubungan kerja sama ekonomi dengan negara lain harus disertakan dengan perubahan yang konstruktif dan mendasar sifatnya. Masa transisional negara-negara Afrika yang dapat menjadi peluang dasar bagi Indonesia dalam menjalin kerjasama dalam hubungan ekonomi dengan negara-negara di Afrika. Namun, proses transisi negara-negara Afrika tidak dapat berjalan mulus, terdapat tantangan dan proses transisi mengenai kondisi perekonomian negara-negara Afrika masih berada dalam lingkran setan dan tahap perkembangannya melambat karena efek dari penyalahgunaan kekuasaan, perang saudara, dan kekerasan dalam dunia politik di negara-negara Afrika di negara-negara Afrika sangat tinggi dan dapat mengancam pemerintahan yang bersifat demokratis, alhasil hanya satu negara saja yang dapat dianggap stabil dan proposional sisten ekonomi dan politiknya, yaitu negara Afrika Selatan.
Hubungan kerjasama antara Indonesia dengan Afrika Selatan dalam bidang ekonomi berjalan dengan baik, khususnya kerjasama dalam ekspor impor. Produk ekspor utama Afrika Selatan adalah logam mulia dan batu, diikuti oleh kendaraan, suku cadang atau peralatan transportasi, mesin dan peralatan elektronik. Sementara impor utama Afrika Selatan diantaranya adalah mesin-mesin, peralatan elektronik, kendaraan, peralatan transportasi. Indonesia adalah salah satu negara yang mengimpor mesin-mesin dari Afrika. Tidak hanya gencar dalam melakukan kerjasama di lingkup ekspor- impor, Indonesia dan Afrika Selatan juga memiliki kerjasama atas mekanisme konsultasi bilateral berupa sidang komisi bersama (SKB) , dan Joint trade Committe (JTC) dan telah menandatangani sejumlah perjanjian serta MoU dalam berbagai bidang termasuk bidang ekonomi yang mencakup tentang pembentukan Joint Trade Committe, perdagangan, pertanian transaksi keuangan juga perpajakan. Hasil ekspor impor antar Indonesia dan Afrika Selatan menuai hasil yang baik. Saling memenuhi kebutuhan satu sama lain, juga Perdagangan internasional yang selalu aktif. Akibatnya, ekonomi kedua negara dapat berjalan stabil meskipun mengalami naik turunnya harga karena adanya arus globalisasi. Kini semakin banyak kerjasama yang menguntungkan entah kerjasama dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia itu sendiri. Demikian hubungan bilateral antara Indonesia dan Afrika Selatan yang terus menerus membaik, karena mempunyai masa lalu sejarah yang baik.
Kerjasama Sosial Budaya Afsel Indonesia
Selain hubungan dalam bidang ekonomi dan lain sebagainya, bidang sosbud tak lepas dari pandangan kedua negara. Di sisi lain Indonesia sendiri yang sudah mempunyai budayanyang sangat banyak begitupun Afsel tidak bisa dtolak lagi kerjasama yang mengaitkan keduanya untuk saling mengahrgai budaya masing-masing negara. Budya yang semakin maju juga tak lepas dari perwakilan negara yang mengenalkan budaya satu sama lain pada kedua negara. Lain dari pada itu selain hubungan baik dari ekonomi, budaya pun juga harus diperkenalkan kepada kancah dunia.
Dalam catatan sejarah, hubungan kedua bangsa sudah terjalin sejak tiga abad lampau ketika tokoh ulama dan pejuang anti kolonialisme Belanda asal Makassar bernama Syeikh Yusuf (1626 - Mei 1699) diasingkan ke Cape Town. Syeikh Yusuf yang oleh Pemerintah Indonesia dan Afsel diakui sebagai Pahlawan Nasional, berperan penting dalam penyebaran agama Islam dan pembentukan komunitas Melayu atau Cape Malay di Afsel. Hingga saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 800 ribu s.d. 1,2 juta warga Cape Malay di seluruh Afsel dan sejumlah makam ulama asal Indonesia yang diasingkan di Cape Town.
2. Komunitas keturunan Indonesia di Cape Malay tersebut telah mengirimkan delegasi ke Indonesia pada Desember 2015 guna menjalin hubungan erat dan mempromosikan people to people contact antara RI-Afsel. Kunjungan tersebut dimanfaatkan untuk menjalin kerja sama dengan insititut pendidikan Islam di Indonesia berupa penandatangan MoU pertukaran pelajar, akademik dan kerja sama penelitian.
3. Tercatat juga kunjungan salah satu pejuang kemerdekaan Afsel, Autshumao, kepala salah satu suku pribumi Afsel pada tahun 1630-an yang berlayar melalui perahu kargo Inggris dari Tanjung Harapan ke Banten di Pulau Jawa. Autshumao akhirnya dipenjara di Pulau Robben. Selain itu terdapat juga tokoh-tokoh seperti Susanna dan Catherine dari Paliacatt yang diasingkan dari Jakarta ke Pulau Roben pada tahun 1657.
Hubungan Diplomatik Indonesia dan Afrika Selatan
Hubungan Afrika Selatan dengan Indonesia telah berlangsung sejak Indonesia berpartisipasi dalam mendukung perjuangan kongres nasional Afrika yang dapat disebut dengan ANC ( Africa National Congress) yang dibentuk oleh partai pimpinan Nelson Mandela sebagai bentuk atas penentangan apartheid. Meskipun hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan sudah terjalin sejak kongres nasional Afrika, namun hubungan tersebut masih belum diresmikan. Peresmian hubungan Afrika Selatan dengan Indonesia baru dimulai saat ditandatanganinya Komunika Bersama Pembukaan Hubungan Diplomatik oleh wakil tetap Indonesia dan Afrika Selatan yang dilaksanakan dikota New York, Amerika pada tanggal 12 Agustus 1994.
Politik Apartheid di Afrika Selatan 1948-1994 M.
Apartheid merupakan kebijakan politik yang membedakan penduduk berdasarkan warna kulit dan ras. Kebijakan ini dimulai oleh orang-orang kulit putih di Afrika Selatan pada awal abad ke-20. Afrika Selatan (Afsel) merupakan benteng terakhir imperialis pemerintahan minoritas kulit putih di Afrika.
Diberlakukannya politik apartheid di Afrika Selatan tersebut mengakibatlan ikut sertanya warga kulit hitam untuk berada pada politik negaranya. Meskipun usaha pertentangan terus dilakukan, tetapi respon dari dari pemerintah hanya bersikap entang dan tidak menggubrisnya, dan tetap membatasi hak politik dari ras kulit hitam. Jika berbicara mengenai Apartheid di Afrika Selatan, maka akan sulit dilepaskan dari nama Nelson Mandela. Tokoh kulit hitam Afrika Selatan ini dikenal sangat aktif dan berjasa dalam melawan sistem politik apartheid. Melalui African National Congress (ANC), ia menjadi presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan.
Sejarah Politik Apartheid
Negara yang kaya akan bahan tambang yaitu berlian dan emas, menyebabkan Afrika Selatan tidak luput dari pendangan serakah dari kolonialisme dan imperialisme bangsa. Pada tahun 1870, Inggris mulai mengeksploitasi kekayaan di wilayah tersebut. Imperialisme Inggris baru berakhir pada tahun 1910.
Istilah apartheid sendiri mulai muncul di Afrika Selatan pada 1930-an. Namun, baru pada tahun 1948, era apartheid dimulai secara resmi di Afrika Selatan. Pada waktu itu pemerintah mengeluarkan kebijakan pemisahan ras yang lebih ketat dan sistematis.
Politik apartheid memisahkan penduduk Afrika Selatan ke dalam golongan kulit putih, kulit hitam, dan kulit berwarna, yakni orang-rang dari ras campuran. Namun, pada perkembangannya, orang Asia ditambahkan sebagai kelompok keempat.
ANC dan partai politik kulit hitam lainnya tetap menginginkan demokrasi yang sesungguhnya di mana setiap orang boleh ikut memilih tanpa melihat warna kulit dan ras.
Akhir Politik Apartheid
Neson Rolihlahla Mandela (1918-2013) setelah bebas dari penjara kembali aktif memimpin partai ANC. Ia berkampanye untuk kemerdekaan hak-hak sipil penduduk kulit hitam. Usahanya bersama dengan de Klerk, membuat kaum kulit hitam dan putih dapat mengupayakan perubahan bersama.
Pada tahun 1992, de Klerk mengadakan referendum yang dikhususkan untuk kaum kulit putih. Dalam referendum tersebut, ia menanyakan kepada mereka apakah ingin mempertahankan politik apartheid atau mengakhirinya. Dua pertiga pemilih setuju untuk mengakhiri sistem politik itu.
Setelah negosiasi bersejarah tersebut, pada tahun 1994 diadakan pemilihan umum bebas pertama, di mana warga kulit hitam dapat ikut serta.
Pemilihan tersebut dimenangkan oleh ANC, dan Nelon Mandela terpilih menjadi presiden kulit hitam pertama Afrika Selatan. Serah terima jabatan dari de Klerk dilakukakan pada bulan Mei 1994.
Kemenangan ANC dan terpilihnya Nelson Mandela sebagai presiden menjadi akhir dari perjalanan politik apartheid di Afrika Selatan. Sebuah era baru pun dimulai di Afrika Selatan, era yang dikenal dengan nama post-apartheid.
Sejak peresmian hubungan antara Indonesia dengan Afrika Selatan semakin erat. Pernyataan ini diperkuat dengan adanya peristiwa kunjungan yang digelar sejak zaman presiden Soeharto sampai presiden Megawati Soekarnoputri. Tidak hanya presiden Indonesia saja yang melakukan kunjungan ke Afrika Selatan, Nelson Mandela juga mengunjungi Indonesia sebanyak dua kali yaitu pada tahun 1997 saat masih menjabat sebagai presiden dan tahun 2002 setelah pensiun dari jabatan presiden.
Pada 30 November 1997, Indonesia dan Afrika Selatan membentuk tida perjanjian bilateral. Perjanjian pertama adalah perjanjian persetujuan perdagangan (Trade Agreement) yang diresmikan dan ditandatangani oleh masing-masing menteri luar negeri, perjanjian ini dilaksanakan di Cape town, Afrika Selatan. Perjanjian kedua adalah, MoU Indonesia dengan provinsi Kwazalu Natal, Afrika Selatan yang ditandatangani pada bulan Juli pada tahun 2003 di Afrika Selatan. Perjanjian ketiga, adalah perjanjian mengenai pendirian Komisi Dagang Bersama (Joint Statement on Establisment of the Joint Trade Commision) antara Indonesia dan Afrika Selatan yang ditandatangani pada tanggal 19 April 2005 oleh menteri luar negeri masing-masing pada Rapat Pleno delegasi Indonesia dan Afrika Selatan pada KTT Asia-Afrika yang berlangsung di Jakarta.
Kerjasama Kemitraan Strategis Baru Asia- Afrika (NAASP)
NAASP dibentuk tahun 2005 pada Konferensi Tingkat Tinggi Asia-Afrika (KTTAA) yang dilaksanakan di Jakarta. NAASP merupakan manifestasi pembentukan “Jembatan” Intra kawasan dengan komitmen kemitraan strategis baru antara Asia-Afrika yang mencakup tiga aspek kerjasama, yaitu: Solidaritas Politik, Ekonomi, Sosial Budaya, dimana ketiga aspek tersebut mencakup tentang mekanisme interaksi antar pemerintah, antar organisasi regional atau sub regional serta antarmasyarakat.
Sejak dibentuknya NAASP, Indonesia dan Afrika Selatan sepakat untuk menjadi ketua bersama (Co-Chair) dalam NAASP. NAASP pada tahun 2006-2011 telah berkembang pesat, hal ini dibuktikan dengan terlaksananya 26 program dibawah naungan kerjasama NAASP, program tersebut antara lain: NAASP-UNEP Workshop on Environmental Law and Policy pada tahun 2006 yang , Asian-African Forum on Genetic Resources, Traditional Knowledge and Folklore pada tahun 2007, dan Apprentice Ship Program For Mozambican Farmers pada tahun 2008. Acara- acara ini dihadiri oleh 218 peserta yang berasal dari 56 negara serta 3 organisasi internasional.
Tidak hanya Indonesia dan Afrika saja yang memegang komitmen dalam pengembangan NAASP, negara-negara peserta NAASP yang lain berhak memegang komitmen dalam pengembangan NAASP, negara lain yang merupakan peserta tersebut adalah, Malaysia yang telah melaksanakan Training Course for Diplomats pada tahun 2007 dan Training Course in Disaster Management pada tahun 2008, lalu China yang telah melaksanakan the 5th Training Program for Staff from African Chambers pada tahun 2009 dan China-Zambia Trade and Invesment Forum pada tahun 2010.
Sebagai upaya dalam memberikan berbagai rekomendasi bagi KTT NAASP kedepan, diadakanlah NAASP Senor Officials Meeting (SOM) yang diselenggarakan di Jakarta pada tanggal 12-13 Oktober 2009. Pertemuan tersebut membahas tentang agenda-agenda penting, khususnya agenda mengenai usulan The 8 Focus Areas of Cooperation yang berfungsi sebagai mekanisme panduan dalam mengarahkan berbagai skema kerjasama dibawah naungan NAASP yang telah dirumuskan dalam KTT AA 2005 dan diwujudkan kedalam beberapa kegiatan yang realistis dan bersifat berorientasi pada hasil.
Terdapat delapan bidang kerja sama yang dihasilkan dalam pertemuan ini, yaitu: Counter Terrorism, Combating Trans-National Organized Crime, Food Security, Energy Security, Small and Medium, Enterprises Tourism, Asian African Development University Network, serta Gender Equality and Women Empowerment. Negara-negara Asia seperti Bangladesh, Jepang, China, Filiphina dan Thailand telah berpatisipasi dalam Champion Countries dibidang kerjasama tersebut dan berdampingan dengan Champion Country dari kawasan Afrika. Indonesia sendiri telah berpasrtipasi dalam Champion Country dari kawasan Asia berkolaborasi dengan Aljazair dari kawasan Afrika dalam bidang kerjasama Counter-Terrorism.
Solidaritas NAASP bagi peserta KTT Asia-Afrika yang belum merdeka: Palestina
Hubungan ynag solid antar anggota KTT Asia-Afrika telah terjalin dengan erat. Rasa persaudaraan anatar anggota KTT Asia-Afrika mengantarkan Indonesia dan negara NAASP memandang prihatin mengenai fakta bahwa Palestina adalah peserta KTT satu-satunya yang belum merasakan kemerdekaan secara hakiki. Maka dari itu, Indonesia memprakarsai dan menjadi tuan rumah NAASP Ministerial Conference on Capicity Building for Palestine ynag dimana konferensi ini diselenggarakan pada tanggal 14-18 Juli 2008 di Jakarta. Dalam konferensi tersebut telah disepakati bahwa NAASP berkomitmen dalam memberikan bantuan program pembangunan kapasitas untuk 10.000 warga palestina dalam waktu 5 tahun (2008-2013). Pada saat itu, presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyampaikan komitmen Indonesia untuk ikut andil dalam usaha perwujudan proyek tersebut dengan menyediakan pelatihan untuk 1000 warga palestina.
Upaya pelaksanaan komitmen Indonesia dalam membantu palestina dibawah NAASP.
Dalam pemenuhan pelaksanaan komitmen nya, Indonesia terus berusaha melakukan pembangunan kapasitas untuk palestina. Pada tahun 2010, Indonesia telah sukses dalam melaksanakan 30 program pelatihan bagi 126 warga palestina. Pada waktu yang bersamaan, terdapat sejumlah program pembangunan kapasitas yang sudah terlaksanakan oleh Indonesia, yaitu: Training Course on Fire Rescue, Training on Project Cycle, Training Course on Gender Mainstreaming for Officers of the Ministry of Women’s Affairs, dan Training Course on Coal and Mineral Resources Management.
Selain itu pada tahun 2011, Indonesia telah menawarkan beberapa program kepada palestina. Beberapa program tersebut, ialah: Apprenticeship Program for Palestine’s Small and Medium Enterprises (SMEs) Development, Medical First Responder, Collapse Structure Search and Rescue (CSSR), School of Environmental Conservation and Ecotourism and Management (SECEM), Training on Project Cycle (Planning, Appraisal, and Management of Infrastructure Project) for the Apparatus of Palestine, dan Capacity building in welding sector.
KESIMPULAN
Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.Sebagai sebuah negara, bangsa Indonesia menyadari bahwa kita tidak mungkin sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan tanpa bantuan dari bangsa atau negara lain. Oleh sebab itu,untuk memenuhi kebutuhan baik yang menyangkut bidang politik,ekonomi, maupun sosial budaya diperlukan kerja sama dalam bentukhubungan internasional. Kerjasama dengan bangsa lain mutlak diperlukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan warganya danpencapaian kepentingan nasional.
Negara Indonesia sebagai negara yang merdeka dan berdaulat.Sebagai sebuah negara, bangsa Indonesia menyadari bahwa kita tidak mungkin sanggup untuk memenuhi semua kebutuhan tanpa bantuan dari bangsa atau negara lain. Oleh sebab itu,untuk memenuhi kebutuhan baik yang menyangkut bidang politik,ekonomi, maupun sosial budaya diperlukan kerja sama dalam bentukhubungan internasional. Kerjasama dengan bangsa lain mutlak diperlukan dalam rangka pemenuhan kebutuhan warganya danpencapaian kepentingan nasional.
Hubungan Indonesia dengan Afrika memiliki dua bagian yaitu Tataran Bilateral, Indonesia terus secara berkesinambungan memelihara dan meningkatkan hubungan dengan Afrika.Tataran Multilateral, Indonesia telah memprakarsai Kemitraan Strategis Baru Asia-Afrika (NAASP), yang diharapkan dapat menjadi jembatan kerjasama antara kedua kawasan.
Indonesia menjalin hubungan kerjasama dengan negara Afrika yaitu dibidang perekonomian, Bidang perdagangan dan bidang-bidang lainnya seperti investasi dan penanaman saham atau modal. Yang terpenting adalah Hubungan antar bangsa atau negara harus dilandasi oleh prinsip persamaan derajat.
Indonesia menjalin hubungan kerjasama dengan negara Afrika yaitu dibidang perekonomian, Bidang perdagangan dan bidang-bidang lainnya seperti investasi dan penanaman saham atau modal. Yang terpenting adalah Hubungan antar bangsa atau negara harus dilandasi oleh prinsip persamaan derajat.
Daftar Pustaka
Komentar
Posting Komentar