Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia
Politik Luar Negeri
Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia
Amjad Trivita
Universitas Islam
Negeri Sunan Ampel
Abstrak
Indonesia sebagai negara yang merdeka
dan berdaulat menjadi anggota aktif dalam politik internasional melalui
pelaksanaan politik luar negerinya. Masing-masing pemimpin negara tentu
memiliki perbedaan terhadap penentuan politik luar negeri negara yang sedang
dipimpinnya. Perbedaan tersebut juga
terjadi dalam penentuan kebijakan politik luar negeri di indonesia. pada
periode ini indonesia dipimpin oleh Joko Widodo yang secara resmi menjabat sebagai Presiden
Republik Indonesia sampai dengan tahun 2019. Sebelumnya, dibawah kepemimpinan
Presiden Susilo Bambang Yudoyono,
Indonesia menerapkan politik luar negeri berbasis thousand friends zero enemy. Selanjutnya, Presiden Joko Widodo memulai
kepemimpinannya dengan menyatakan arah kebijakan politik luar negeri yang baru.
Berangkat dari kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan
serta kapabilitas militernya yang baik, Presiden Joko Widodo menyatakan akan
menerapkan kebijakan politik luar negeri berbasis global maritime nexus. Dengan kata lain, dibawah
kepemimpinan Presiden Jokowi akan lebih mewujudkan
kemandirian ekonomi dengan memanfaatkan sumberdaya maritim sebagai amunisi
utama untuk menjadi yang terdepan di kancah Internasional.
Kata kunci : politik luar negeri,
maritim, kebijakan
Abstract
Indonesia as an independent and sovereign state becomes an active member in international politics through the implementation of its foreign policy. Each country leader certainly has a difference to the determination of foreign policy of the country he is leading. This difference also occurs in the determination of foreign policy in Indonesia. in this period Indonesia is led by Joko Widodo who officially served as President of the Republic of Indonesia until 2019. Earlier, under the leadership of President Susilo Bambang Yudhoyono, Indonesia implemented foreign policy based on thousands of friends zero enemy. Furthermore, President Joko Widodo began his leadership by stating the direction of the new foreign policy. Departing from the geographical condition of Indonesia which is an archipelagic country and its good military capability, President Joko Widodo said it would implement maritime nexus global-based foreign policy. In other words, under the leadership of President Jokowi will further realize the economic independence by utilizing maritime resources as the main ammunition to be at the forefront in the international arena.
Keywords: foreign policy, maritime, policy
Setiap negera memiliki tujuan nasional yang diperoleh dengan mengelola potensi sumber daya yang terdapat didalam negeri maupun luar negeri. Politik luar negeri merupakan salah satu upaya yang dijalankan setiap negara untuk menjalin hubungan dengan negara-negara lain di tingkat internasional agar dapat mengelola potensi pemenuhan kebutuhan nasional yang berasal dari sumber daya yang terdapat dari luar wilayah negaranya. Politik luar negeri erat kaitannya dengan pencapaian tujuan nasional dari suatu negara. Indonesia merupakan salah satu negara yang menjalankan politik luar negeri untuk mencapai tujuan nasionalnya. Dan Setiap pemimpin negara tentunya memiliki perbedaan terhadap penerapan politik luar negerinya.
Seperti pada era Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) poltik luar negeri Indonesia di tampilkan dengan sosok
politik yang high profile. ‘Thousand friends zero enemy’
merupakan sebuah semboyan yang hadir mengiringi kebijakan luar negeri Indonesia
di era pemerintahan presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pada masa kepemimpinan
SBY, beliau sangat berhati hati sekali dalam pengambilang suatu keijakan. Bisa
dikatakan pada masa pemerintahan SBY Indonesia hanya dikenal dengan kebijakan
politik luar negeri "cari aman" dengan fondasi bebas aktif. Kebijakan
yang diambil disertai dengan pemulihan nama baik indonesia guna mengklarifikasi kesalahpahaman publik
internasional kepada Indonesia yang semula kerap dianggap sebagai surga
koruptor, pelanggar Hak Asasi Manusia, dan sarang teroris. Pemulihan nama baik
indonesia di mata internasional membuahkan hasil dengan terpilihnya indonesia
sebagai tuan rumah berbagai forum besar internasional seperti Konferensi Asia
Afrika (KAA) (Djalal, 2009)
Orientasi Politik luar Negeri Indonesia
Era Jokowi
Berbeda
jauh dengan kebijakan politik luar negeri masa SBY, pada masa Jokowi lebih
menampilkan politik luar negeri yang low profile atau setidaknya
mengurangi “terlalu banyak tampil di luar negeri” dan akan lebih fokus pada
urusan dalam negeri atau ditunjukan semata-mata untuk membenahi dan memperkuat
di dalam "inward looking".
Menurud jokowi penguatan dan pembangunan ekonomi nasional nampak lebih menarik
dan lebih penting. Berbeda dari pendahulunya, yakni presiden SBY yang selalu
aktif di panggung internasional untuk menyelesaikan persoalan global. Jokowi
lebih banyak menghabiskan waktu untuk membangun hubungan dengan negara-negara
yang dinilai bisa menguntungkan Indonesia secara langsung. Jokowi memiliki
rumusan visi dan misi hubungan luar negeri yakni “terwujudnya Indonesia yang
berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong–royong”. Visi
tersebut mempertegas makna “kebebasan” Indonesia dengan cara mewujudkan
kedaulatan, kemandirian,dan kepribadian nasional. Pemerintahan Presiden Jokowi
meletakan landasan operasional politik luar negeri sebagai upaya untuk
meningkatkan konsistensi Indonesia dalam melaksanakan kebijakan poliik luar
negeri yang bebas aktif, serta menjadikan negara Indonesia sebagai negara
maritim untuk mewujudkan tatanan dunia yang semakin baik dan memperjuangkan
kepentingan nasionalnya dalam rangka mencapai tujuan nasional.
Indonesia sendiri merupakan negara kepulauan
yang memiliki luas wilayah laut 93.000 km persegi dan panjang garis pantai
81.000 km. Negara ini berada pada posisi geografis yang strategis di jalur
perairan dunia sehingga sangat menguntungkan Indonesia sebagai poros maritim
dunia. Poros maritim dunia adalah jalur laut yang menghubungkan laut dari Aceh
hingga Papua antara Samudera Pasifik dan Samudera Hindia. Jalur laut ini
merupakan kekuatan bagi Indonesia untuk mengembangkan negaranya. Selain itu
melalui letaknya yang strategis Indonesia dapat melakukan hubungan baik politik
maupun ekonomi dengan 10 negara yang berbatasan dengan Indonesia. Selain itu
Indonesia juga dapat memanfaatkan sumber daya alam yang terdapat di laut untuk
mensejahterakan rakyatnya.
Jika
dilihat dari sejarahnya yang memanfaatkan laut untuk mengembangkan serta
mensejahterakan Indonesia adalah presiden Soekarno. Beliau merupakan presiden
pertama Indonesia yang menetapkan negara ini sebagai negara kepulauan, yakni
melalui deklarasi Djoeanda pada 13 Desember 1957. Hal ini dilakukan untuk
membentuk jati diri bangsa sekaligus sebagai politik luar negeri Indonesia pada
masa pemerintahan soekarno waktu itu. Hingga pada masa pemerintahan Soeharto,
wawasan nusantara sebagai negara kepulauan mulai tidak diprioritaskan karena
beliau lebih memprioritaskan pembangunan di darat dan meningkatkan perekonomian
masyarakat Indonesia. Hal ini berlangsung hingga era pemerintahan Susilo
Bambang Yudhoyono, beliau masih memprioritaskan basis darat dan memulihkan
citra Indonesia. Pada tahun 2014 Joko Widodo terpilih menjadi presiden
Indonesia, beliau memiliki program yakni menjadikan Indonesia sebagai poros
maritim dunia. Poros maritim dunia yang merupakan wacana Presiden Joko Widodo
serta salah satu kebijakan luar negeri Indonesia pada masa pemerintahannya.
Presiden Jokowi juga menegaskan dalam lima tahun ke depan Indonesia harus
kembali menjadi negara maritim. Presiden yakin Indonesia mampu memposisikan
diri sebagai poros maritim dunia. Dalam pidato preside jokowi(2014) menegaskan:
"Kita telah terlalu lama memunggungi
laut, memunggungi samudra, dan memunggungi selat dan teluk. Ini saatnya kita
mengembalikan semuanya sehingga 'Jalesveva Jayamahe', di laut justru kita jaya,
sebagai semboyan kita di masa lalu bisa kembali membahana."
Penegasan itu disampaikan Presiden Jokowi saat
menyampaikan pidato perdana sebagai Presiden ke-7 Republik Indonesia usai
pelantikan di Gedung MPR/DPR/DPD.Presiden
Jokowi bertekad menjadikan Indonesia negara maju, kompetitif, dan memiliki
mentalitas baru.Visi ini disebut sebagai Nawa Cita, yang secara umum adalah
revitalisasi tiga dokumen, yakni: Trisakti, UUD 1945, dan Deklarasi Djuanda.
Trisakti mengamatkan berdaulat di bidang politik, mandiri bidang ekonomi, dan
berkebudayaan Indonesia. UUD 1945, bagian preamble, mengamatkan,
"Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur."
Deklarasi Djuanda menegaskan Indonesia sebagai negara maritim dalam sebuah
kesatuan wilayah daratan dan laut sebagai wawasan Nusantara. Visi ini, dalam
politik luar negeri, diterjemahkan dalam arah kebijakan menjadikan Indonesia
kekuatan maritim yang diperhitungkan.
Maritim Sebagai Kiblat Pembangunan Nasional Indonesia
Seperti dirumuskan dalam Rentra Kemenlu
2015-2019. Dalam lima tahun ke depan, politik luar negeri Indonesia akan dititikberatkan pada mengedepankan
identitas sebagai negara kepulauan dalam pelaksanaan diplomasi dan membangun
kerja sama internasional, menguatkan diplomasi middle power yang menempatkan
Indonesia sebagai kekuatan regional dengan keterlibatan global secara selektif,
serta memperluas mandala keterlibatan
regional di kawasan Indo Pasifik. kebijakan politik
luar negeri Indonesia bebas dan aktif yang dilandasi kepentingan nasional dan
jati diri sebagai negara maritim, ditempuh presiden jokowi melalui beberapa
strategi:
1. Evaluasi pelaksanaan kebijakan politik luar
negeri dan penyusunan buku biru diplomasi
yang menggambarkan politik luar negeri bebas aktif, yang dilandasi
kepentingan nasional dan jati diri sebagai negara maritim, dan melaksanakan UU
No. 17 tahun 1985 tentang pengesahan UNCLOS (United Nations Convention on
The Law of The Sea) secara konsisten.
2. Penyediaan beasiswa untuk bidang hukum laut,
riset strategis, dan perdagangan.
3. Konsolidasi perwakilan Republik Indonesia di luar negeri
secara regular untuk melaksanakan kebijakan politik luar negeri yang
berkarakter bebas aktif, sesuai kepentingan nasional dan jati diri negara
maritim.
4. Perluasan partisipasi publik dalam proses perumusan
kebijakan politik luar negeri dan diplomasi.
5.
Pengembangan IT Masterplan untuk
mendukung diplomasi RI.
Sedangkan untuk Menguatkan diplomasi maritim,
untuk mempercepat penyelesaian perbatasan Indonesia dengan 10 negara tetangga,
menjamin integritas wilayah NKRI, kedaulatan maritim dan keamanan atau
kesejahteraan pulau-pulau terdepan, dan mengamankan sumber daya alam dan ZEE
melalui strategi:
1.
Mempercepat penyelesaian masalah
perbatasan maritim dan darat.
2.
Pelaksanaan doktrin poros maritim dunia.
Dalam
mewujudkan konsep poros maritim dunia beliau mulai melakukan beberapa
perubahan. Potensi besar yang dimiliki Indonesia menimbulkan ancaman karena
kurangnya prioritas terhadap laut dari era pemerintahan presiden sebelumnya.
Sehingga presiden Indonesia kini ingin mengembangkan program yang mengedepankan
pertahanan kemanan, pembangunan Infrastruktur, serta meminimalisir ancaman illegal
fishing. Beliau juga ingin membangun pandangan yang awalnya berbasis darat
ke basis laut, Aktifitas berkait dengan lautan, selat dan teluk akan
dikedepankan
Kesimpulan
Semenjak
resmi mencalonkan diri sebagai presiden pada pertengahan tahun 2014, Jokowi sudah mendeklarasikan untuk menjadikan Indonesia sebagai global maritime nexus adalah
bagian dari visi misinya. Hingga kemudian Joko Widodo resmi dilantik sebagai
presiden pada Oktober 2014, ia dengan tegas menyatakan bahwa politik luar
negeri yang akan ia terapkan untuk Indonesia adalah untuk mengembalikan kejayaan
maritim Indonesia. Jokowi bertekad
menjadikan Indonesia negara maju, kompetitif, dan memiliki mentalitas baru.Visi
ini disebut sebagai Nawa Cita, yang secara umum adalah revitalisasi tiga
dokumen, yakni: Trisakti, UUD 1945, dan Deklarasi Djuanda. Visi ini, dalam
politik luar negeri, diterjemahkan dalam arah kebijakan menjadikan RI kekuatan
maritim yang diperhitungkan. Semua pernyataan presiden terkait dengan arah
kebijakan politik Indonesia yang baru ini sesungguhnya agak kontras dengan
politik luar negeri yang diterapkan oleh presiden sebelumnya, yakni Susilo
Bambang Yudhoyono. Hal ini pasalnya, walaupun keduanya memiliki kesamaan tujuan
untuk menjalankan karakter politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,
namun apabila pada pemerintahan di bawah Presiden Yudhoyono Indonesia cenderung
kurang tegas dengan tidak mau bermusuhan dengan negara manapun, pada masa pemerintahan
Presiden Joko Widodo, Indonesia bersikap sebaliknya. Dengan tegas memberikan
perhatian pada sektor maritim, Indonesia di bawah pemerintahan Presiden Joko
Widodo mengambil tindakan tegas untuk bersikap terhadap negara-negara yang
mengganggu kedaulatan maritim Indonesia.
Referensi
Anggraeni, Prameswari, 2016. “Politik
Luar Negeri Indonesia Poros Maritim Dunia di Era Pemerintahan JokoWidodo”, 4
(2) 347-358
Yudhoyono, Susilo Bambang,
2009. “Indonesia Unggul: Kumpulan Pemikiran dan Tulisan Pilihan oleh Presiden
Republik Indonesia. Jakarta:Gramedia
Tantowi,2015.Cara
Jokowi Melihat ASEAN.Tersedia di: https://nasional.sindonews.com/read/1008585/18/cara-jokowi-melihat-asean
[diakses pada 22 oktober 2017]
Julitasari,2016.
Kilas Balik Kebijakan Politik Luar Negeri SBY dengan Kebijakan Politik Jokowi.
Tersedia di: https://www.kompasiana.com/julitasari/kilas-balik-kebijakan-politik-luar-negeri-sby-dengan-kebijakan-politik-joko-widodo [diakses
pada 22 oktober 2017]
Kristiani,Wahyu
Karlina,2017.Perbandingan Politik Luar Negeri Indonesia Global Nexus Politik
Luar Negeri Indonesia Dibawah Kepemimpinan Presiden Jokowi yang Berbasis pada
Kondisi Geografi dan Kapabilitas Militer,2017 [online] http://karlinawk-fisip12.web.unair.ac.id/html
[diakses pada22 oktober 2017]
Haryono,
Endi,2017.Politik Luar Negeri Tiga Tahun Pemerintahan Jokowi. Tersedia di: http://www.mediaindonesia.com/news/read/127568/politik-luar-negeri-tiga-tahun-pemerintahan-jokowi [diakses pada 23 oktober 2017]
Komentar
Posting Komentar