Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat Terhadap Stabilitas Keamana di Indonesia
Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat Terhadap Stabilitas Keamana di Indonesia
Khoridatur Rahmah (I02216015)
Yulia faroqi (I72216050)
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Abstract
This research is made to fulfill the Final Test of International Relations Study Program of Foreign Policy, which holds the theme of "Cooperation between Indonesian government and the super power of the United States / US". In this study we can suppose that the cooperation between anatar Indonesia and the super power state is good or just a relationship that has great support for the super power and decreased for the weak party. Without the reciprocal of super power state tesub. The policy of the United States to disseminate the values of democracy occupies an important position in the policy of foreign politics of President Bill Clinton's administration. Clinton's government policy towards Haiti in 1993-1994 is a clear and open case example in America's efforts to promote democracy. The Clinton Administration considers that the Haitian military regime that carried out a coup against the legitimate civilian government of democratic elections is a denial of the liberal aspirations of the American nation that greatly upholds democratic life. Therefore, the Clinton administration feels the need to make efforts to restore and promote democracy in the Caribbean region country. The American mission in Haiti is not solely about promoting democracy, but it is also linked to America's efforts to expand the free market. Because for the Clinton administration, democratic policy must be linked to Pula in an integrated way with expanding the free market. The implementation of this policy is in fact related to the national interest of the United States and is also part of America's strategy to create peace in a world based on the creation of democratic governments everywhere.
Keywords : Indonesia-United State of America relations, foreign political relations. Government security. Military
PENDAHULUAN
Hubungan Indonesia - Amerika pada Dimensi Politik Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat (AS) telah terbina sejak sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI tahun 1945. Di era Demokrasi Terpimpin, antara tahun1959 dan tahun 1965, Amerika Serikat memberikan 64 juta dollar dalam bentuk bantuanmiliter untuk jenderal-jenderal militer Indonesia. Menurut laporan di media cetak "Suara Pemuda Indonesia": Sebelum akhir tahun 1960, Amerika Serikat telah melengkapi 43batalyon angkatan bersenjata Indonesia. Tiap tahun AS melatih perwira-perwira militersayap kanan. Di antara tahun 1956 dan 1959, lebih dari 200 perwira tingkatan tinggi telah dilatih di AS, dan ratusan perwira angkatan rendah terlatih setiap tahun. Kepala Badan untuk Pembangunan Internasional di Amerika pernah sekali mengatakan bahwa bantuan AS, tentu saja bukan untuk mendukung Soekarno dan bahwa AS telah melatih sejumlah besar perwira-perwira angkatan bersenjata dan orang sipil yang mau membentuk kesatuan militer untuk membuat Indonesia sebuah "negara bebas".
Hubungan kerjasama antara Indonesia dan AS dalam bidang keamanan, lebih difokuskan pada hubungan antara kedua negara pada tahun 2005-2010 karena pada tahun 2005 hubungan Indonesia dan Amerika Serikat mulai mengalami perubahan menuju arah yang lebih baik, dimana embargo militer AS kepadaIndonesia secara bertahap mulai dihapuskan pada tahun 2005. Hal ini dilihat oleh pemerintah AS bahwa sudah mencapai kemajuan penting dalam memajukan demokrasi dan AS akan membantu Indonesia untuk memodernisasi militernyaserta meningkatkan usaha kontra-terorisme dan pertolongan bencana. Hubungan antara Indonesia dan AS pada kerjasama dalam bidang keamanan terlihat dan signifikan dari adanya diadakan dialog keamanan olehkedua negara yang terus dilanjutkan meskipun, telah mengalami pergantian pemerintahan dari kedua negara. Dialog keamanan antara kedua negaramemfokuskan pada kerjasama untuk melawan aksi terorisme yang dapatmengancam kedaulatan kedua negara, dan juga mengancam keamanan dunia.Selain itu, hubungan kerjasama antara dua negara ini mengacu pada dampak yangakan diterima oleh Indonesia terhadap stabilitas keamanan negara ini.Pada tahun 2010, adanya Kemitraan Komprehensif yang memungkinkankedua negara yaitu Indonesia dan AS untuk sepenuhnya mengeksplorasi danmembangun bersama di atas kepentingan nasional, memaksimalkan kerjasama pada prioritas bersama, dan memperkuat hubungan yang telah terjalin lama antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kemitraan Komprehensif bagi kedua negara, tujuannya untuk memperkuat kerjasama bilateral di berbagai isu dalam rangkamempromosikan perdamaian, stabilitas, dan kemakmuran ekonomi, yangsemuanya itu tidak hanya dapat dirasakan oleh Amerika Serikat dan Indonesia,tetapi baik regional maupun global juga turut merasakan dampak dari kerjasama antar negara tersebut.
PEMBASAHAN
Kebijakan Pemerintah Indonesia di Bidang Keamanan
Keamanan nasional merupakan perwujudan konsep keamanan menyeluruh yang menempatkan keamanan sebagai konsep multi-dimensi yang mengharuskan negara menyiapkan beragam aktor keamanan untuk mengelolanya. Aktor-aktor keamanan tersebut masing-masing memiliki fungsi dan tugas spesifik untuk menangani dimensi keamanan yang spesifik pula, keragaman ancaman keamanan nasional kontemporer dan sifat dari penangkalan dan serangan yang asimetris merupakan faktor utama kebutuhan akan kerangka yang komprehensif tersebut.
Sejak bergulirnya reformasi di tahun 1998 sejumlah program Reformasi Sektor Keamanan (RSK) di Indonesia telah mulai dijalankan. Perubahan pertama di sektor keamanan Indonesia adalah perubahan internal paradigma peran TNI, yang berisikan dokumen mengenai redefinisi, reposisi, dan reaktualisasi peran TNI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara formal perubahan peran TNI ini diwadahi melalui TAP MPR-RI No VI/MPR/2000 tentang pemisahan TNI dan Polri, serta TAP MPR-RI No VII/MPR/2000 tentang peran TNI dan Polri.
Paradigma baru TNI, secara kelembagaan telah memberikan beberapa perubahan struktural di dalam tubuh Mabes TNI, yaitu pertama, pemisahan Polri dari organisasi dan struktur komando TNI. Kedua, penghapusan jabatan Kassospol TNI dan Kaster TNI. Ketiga, penghapusan doktrin Dwifungsi ABRI. Keempat, likuidasi fungsi kekaryaan serta sosial politik TNI. Kelima, penghapusan keberadaan fraksi TNI/Polri di lembaga parlemen di tahun 2004. Keenam, penerapan akuntabilitas publik terhadap aktivitas bisnis militer. Serta ketujuh, perumusan ulang strategi dan doktrin pertahanan Indonesia. Pada tahun 2002, DPR mengeluarkan regulasi di sektor keamanan yang makin memperkuat upaya reformasi yang tengah berlangsung, yaitu UU No 3 Tahun 2002 tentang pertahanan negara, pada tahun 2004, pemerintah kembali mengeluarkan regulasi yang mengatur TNI, yaitu UU No 34 Tahun 2004 tentang TNI. Namun, walaupun sejumlah regulasi mengenai pengaturan sistem keamanan di Indonesia telah dikeluarkan, regulasi-regulasi tersebut masih membawa sejumlah kekurangan. Salah satu kelemahan mendasar dari regulasi-regulasi tersebut adalah ketidakmampuan pemerintah menyusun sebuah kerangka sistem keamanan yang demokratis, komprehensif dan integratif, dengan demikian, regulasi-regulasi tersebut masih memerlukan sejumlah perbaikan dan penambahan untuk menuntaskan reformasi sektor keamanan di Indonesia.
Kebijakan Amerika Serikat di Bidang Keamanan Dunia
Amerika Serikat memiliki sejarah yang panjang mengenai pola pengembangan kebijakan luar negerinya. Landasan atau dasar pijakan politik luar negerinya seperti sifat patriotisme warga negaranya, kebudayaan yang diwariskan secara turun temurun, dan kemakmuran negara yang memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, menjadikan AS sebagai bangsa yang memiliki integritas yang tinggi. Sebagai negara super power, kebijakan luar negeri AS merupakan role model bagi kebijakan luar negeri hampir seluruh negara di dunia.
Prinsip-prinsip kebijakan luar negeri AS sejak Pasca Perang Dunia II hingga masa kontemporer terbagi dalam 3 periode yakni:
a) Periode Pasca Perang Dunia II (1940an hingga 1960an). Pada masa ini, prinsip kebijakan luar negeri AS sangat didominasi oleh dorongan untuk membendung penyebaran kekuatan Komunis yang dimotori oleh Uni Soviet. Dengan menerapkan kebijakan politik pembendungan terhadap penyebaran komunisme dan menjadikannya sebagai salah satu motif kebijakan luar negeri AS. Kebijakan luar negeri AS pada masa ini sulit dipisahkan dengan kebijakan keamanan nasionalnya. Terutama kebijakan yang menekankan kekuatan militer sebagai instrumen penangkalan (detterence) terhadap kekuatan-kekuatan militer Uni Soviet. Kebijakan ini oleh para pengambil kebijakan luar negeri AS dimanifestasikan dalam pembentukan aliansi-aliansi militer di berbagai penjuru dunia, untuk menghalau dari kemungkinan ancaman Uni Soviet yang secara tidak langsung akan meningkatkan keamanan nasionalnya. Dalam era ini, kebijakan Politik Luar Negeri AS lebih proaktif untuk membendung apa yang mereka yakini sebagai perluasan komunisme. Persepsi inilah yang menyebabkan AS melakukan tindakan-tindakan intervensi di berbagai kawasan dunia.
b) Periode Pasca Perang Vietnam (1960an-1980an). Prinsip pembendungan masih sangat mewarnai Politik Luar Negeri AS. Namun, sejak kekalahan AS dalam Perang Vietnam, decision maker AS mulai memikirkan secara serius keadaan perekonomian dalam negeri yang terus memburuk. Pada masa ini, prinsip pembendungan dan pengembangan akses terhadap pasar global menjadi tujuan utama kebijakan luar negeri AS.
c) Selanjutnya pada periode Pasca Perang Dingin. Kebijakan Politik Luar Negeri AS mengalami beberapa penyesuaian sejalan dengan berbagai perubahan mendasar yang terjadi dalam politik internasional. Pada masa yang ditandai dengan serba ketidakpastian ini, dalam politik internasional telah memunculkan isu-isu baru yang sangat penting dalam perumusan dan pelaksanaan Politik Luar Negeri AS. Isu-isu menyangkut nilai-nilai demokrasi, hak asasi manusia, lingkungan hidup, dan sebagainya telah mengemuka sebagai agenda penting dalam kebijakan luar negeri AS.
Serangan yang terjadi di WTC, AS merupakan kondisi national emergency bagi negara ini, dimana yang menjadi kepala negara saat itu adalah George W. Bush. Masa kepemimpinan George W. Bush menjadi turning point dalam pengambilan kebijakan luar negeri AS, dimana Ia mengambil kebijakan perang melawan terorisme atau global war on terrorism sebagai bentuk pertahanan AS dan perlindungan warga negaranya terhadap serangan terorisme tersebut. Hal ini semakin dipertegas dalam Doktrin Bush (Bush Doctrine) yang sering disebut sebagai Grand Strategy Kebijakan Luar Negeri AS yang terdiri atas 7 elemen, yaitu:
1) Amerika Serikat memainkan peran secara langsung dalam menjawab ancaman-ancaman.
2) Komitmen untuk mempertahankan dunia yang unipolar, dengan AS sebagai sumbunya, yang berarti tidak boleh ada pesaingnya.
3) Analisis baru tentang ancaman global dan bagaimana ancaman itu harus ditangani.
4) Tidak lagi menggunakan konsep detterence (pencegahan) seperti yang digunakan pada masa Perang Dingin.
5) Mengembangkan atau menggunakan pola baru yakni pre-emprive actions.
6) Pembongkaran dan penyusunan ulang pengertian kedaulatan.
7) Depresiasi umum terhadap aturan-aturan atau perjanjian-perjanjian internasional.
Faktor Pendorong dan Penghambat Kerjasama Indonesia – Amerika Serikat di Bidang Keamanan
Kerjasama dalam konteks hubungan internasional terbagi menjadi kerjasama bilateral dan kerjasama multilateral. Kerjasama bilateral adalah suatu kerjasama antara dua negara dalam bidang-bidang tertentu seperti kerjasama bilateral yang dilakukan antara Indonesia dan Amerika Serikat dalam bidang keamanan.
Dengan demikian Indonesia dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari hubungan bilateral tersebut, walaupun seharusnya kerjasama yang dilakukan antara dua negara memiliki prinsip yang saling menguntungkan, saling menghargai dan saling menghormati satu sama lain tanpa melihat besar kecilnya atau mampu tidaknya atau lebih kurangnya negara tersebut.
Kerjasama yang akan dibahas dalam pembahasan ini adalah kerjasama bilateral yang dilakukan dua negara yaitu Indonesia dan Amerika Serikat dalam bidang keamanan. Dengan demikian, hubungan bilateral dengan negara Amerika Serikat dimaksudkan untuk mempererat kerjasama di bidang tertentu terutama bidang keamanan dengan memiliki tujuan akhir adalah untuk meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat di masing-masing negara. Hubungan bilateral Indonesia dengan AS merupakan hubungan bilateral yang “istimewa”, hal ini dikarenakan adanya beberapa kesamaan dan perbedaan antara Indonesia dan AS yaitu keduanya memiliki jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa dan memiliki angkatan kerja yang meningkat dari tahun ke tahun. Selain itu, luas wilayah kedua negara juga sangat besar, keduanya merupakan negara yang multikultur dan multietnis. Sedangkan perbedaannya adalah dari segi politik pemerintahan, Indonesia adalah negara Republik sedangkan AS negara Federal. Dari segi ekonomi, AS merupakan negara donor dengan pendapatan per kapita yang lebih besar dibandingkan dengan Indonesia.
Faktor Pendorong Kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat
Hubungan antara Indonesia dan AS mengalami perubahan ke arah yang lebih baik setelah dilaksanakannya pemilu yang demokratis pada tahun 1999 dan disusul pemilu selanjutnya serta pemilihan presiden 2004. Hubungan Indonesia dan AS sejak dahulu telah terjalin dan sekarang memiliki peluang untuk meningkatkan hubungan tersebut dimana Indonesia dalam membangun negaranya, Amerika membantu mendorong ke arah yang lebih baik. Salah satu faktor untuk meningkatkan pembangunan adalah meningkatnya foreign direct investment (FDI), FDI akan meningkat apabila investor tertarik untuk menanamkan investasinya di Indonesia. Ketertarikan investor dipicu oleh tingkat korupsi yang rendah dan kepastian hukum.
Kemajuan Indonesia perlu didukung oleh kemampuan sumber daya manusianya dengan meningkatkan tingkat pendidikan penduduk Indonesia, terutama meningkatkan jumlah masyarakat yang berpendidikan. Hubungan Indonesia dan AS telah berlangsung dengan penuh saling pengertian, hal ini dibuktikan dengan adanya kemauan bersama untuk berdialog antara PresidenGeorge Bush dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan APEC di Santiago. Peningkatan hubungan bilateral terjalin berkat peran kedua pemimpin negara tersebut, terutama adanya kehendak Presiden George W. Bush untuk menormalisasikan kerjasama militer.
Setelah peristiwa 11 September 2001, Indonesia merupakan soft target dari isu teroris, perlu adanya peningkatan relationship dengan cara meningkatkan frekuensi pertemuan struktural antara pemerintah Amerika dengan Indonesia dan pertemuan antara DPR dengan Kongres. Selain itu, persepsi masyarakat Amerika tentang citra Indonesia juga perlu dirubah terutama setelah terjadinya krisis tahun 1997 (crisis driven problem). Serta Amerika juga perlu memahami Islam secara komprehensif dan hal ini merupakan peran Indonesia untuk memberikan pengertian pada Amerika tentang Islam sebab Islam itu tidak identik dengan masalah Timur Tengah.
Pemerintah Bush sejak peristiwa 11 September 2001 berusaha meyakinkan dunia bahwa ancaman terbesar dalam politik dunia kontemporer adalah terorisme global yang diarahkan ke kelompok militan Islam Al-Qaeda. Selanjutnya, AS menggalang komunitas internasional untuk sejalan dengan AS dalam memerangi terorisme, tidak terkecuali Indonesia. Amerika sangat berkepentingan untuk memperoleh dukungan dari Indonesia mengingat Indonesia merupakan negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, apalagi secara geopolitik, Indonesia berada di jalur perairan Selat Malaka, dimana merupakan daerah yang strategis di kawasan Asia Tenggara.
Jika di masa Perang Dingin, Indonesia menjadi rekan penting AS dalam membendung komunisme, maka dalam politik dunia saat ini pemerintah AS menginginkan dukungan yang sama dari Indonesia dalam hal perang melawan terorisme. Apalagi, sejak peristiwa bom Bali 12 Oktober 2002 terjadi di Indonesia, terorisme kemudian menjadi masalah yang mempererat hubungan Indonesia dan AS. Peristiwa bom Bali yang terjadi membuat Indonesia juga sadar akan ancaman terorisme seperti yang juga dialami oleh AS pada 11 September 2001.
Faktor Penghambat Kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat
Hal yang membuat kerjasama Indonesia dan Amerika Serikat dapat terhambat yaitu adanya jurang pemisah antara Amerika dengan Indonesia, dimana adanya perbedaan persepsi masyarakat AS dan Indonesia. Seperti misalnya, dalam memandang masalah di Irak dan Afghanistan, Indonesia memandang AS hanya menggunakan jalan perang untuk mencapai tujuannya. Indonesia beranggapan bahwa masalah di Irak dan Afghanistan dapat digunakan solusi yang lebih manusiawi dan damai seperti dengan cara menenangkan hati dan pikiran rakyat Irak, hal yang digunakan oleh AS tersebut dipandang sebagai tindakan yang melanggar hak asasi manusia. Sedangkan AS memandang bahwa AS terpaksa harus menerapkan kebijakan tersebut agar segera tercapai stabilitas keamanan dunia.
Pada saat aksi militer yang dilakukan oleh AS ke Afghanistan, saat itu pemerintah Indonesia dipimpin oleh Presiden Megawati Soekarnoputri.Meskipun pemerintah Indonesia pada masa Ibu Megawati memberikan dukungan terhadap AS dalam upaya memerangi terorisme, namun pemerintah Megawati bersikap kritis terhadap kebijakan AS dalam hal aksi militer terhadap Afghanistan dan Irak. Bahkan Susilo Bambang Yudhoyono yang saat itu sebagai Menko Polkam mengeluarkan kritik tegas bahwa invasi AS ke Irak merupakan awal dari world disorder dan akan menjadi imej buruk bagi dunia bahwa sebuah negara akan melakukan apa saja terhadap negara lain dan tidak selalu tunduk pada Dewan Keamanan PBB. Sementara itu, masyarakat Indonesia juga menentang dengan keras terhadap kebijakan AS tersebut dan persepsi negatif Indonesia atas kebijakan AS tersebut tentunya menimbulkan ketegangan dalam hubungan Indonesia dan Amerika Serikat.
Hal yang sama terjadi kepada Indonesia, Amerika Serikat melakukan embargo kepada Indonesia terkait pelanggaran HAM yang dilakukan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) di Timor Timur (Timtim). Dalam perniagaan dan politik internasional, embargo merupakan pelarangan perniagaan dan perdagangan dengan sebuah negara, embargo umumnya dideklarasikan oleh sekelompok negara terhadap negara lain untuk mengisolasikannya dan menyebabkan pemerintah negara tersebut dalam keadaan internal yang sulit. Keadaan yang sulit ini dapat terjadi akibat pengaruh dari embargo yang menyebabkan ekonomi negara yang dilawan tersebut akan menderita akibat hal itu. Selain itu, embargo juga digunakan sebagai hukuman politik bagi pelanggaran terhadap sebuah kebijakan ataukesepakatan, seperti yang diterapkan Amerika Serikat terhadap Indonesia dari tahun 1999 hingga 2005 dalam hal pengadaan senjata militer.
Peristiwa atau tragedi yang terjadi di Timor Timur membuat Amerika geram, dan Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui keputusan Kongres Amerika, langsung menghentikan program pendidikan dan latihan militer internasional untuk para perwira Indonesia. Peristiwa Timtim yang pertama disusul oleh serangan milisi pro-integrasi yang diyakini memperoleh dukungan dari ABRI pada saat itu terhadap sekelompok orang yang menginginkan kemerdekaan Timtim dari Indonesia, yang telah menjadi korban pasca jajak pendapat tahun 1999. Kerusuhan yang terjadi pasca jajak pendapat di Timor Timur membuat Kongres AS pada tahun 1999 mengeluarkan Leahy Amandment, yang berisi embargo total, dimana inti dari amandemen tersebut adalah mensyaratkan bahwa bantuan militer AS kepada Indonesia dapat diberikan oleh pemerintah AS apabila pemerintah RI dapat mengadili para pelaku pelanggaran HAM di Timor Timur.
Memiliki tujuan yang sama antara Indonesia dan Amerika Serikat yakni untuk memerangi terorisme, demi menciptakan suatu kondisi yang aman baik nasional, regional maupun dunia, dapat dijadikan sebagai faktor pendorong dalam kerjasama yang terjalin antara kedua negara tersebut. Adapun hal yang dapat menghambat kerjasama negara ini yakni kultur masyarakat Indonesia dan Amerika Serikat yang berbeda, selain itu terdapatbeberapa kelompok masyarakat Indonesia yang tidak memiliki pendapat yang sama dengan Amerika Serikat.
Dampak Hubungan Indonesia dan Amerika Serikat Terhadap Stabilitas Keamanan di Indonesia
Pasca Perang Dingin, interaksi di antara negara-negara besar tidak lagi dipengaruhi oleh pertarungan ideologi namun bergeser pada persoalan-persoalan perebutan akses ekonomi. Kepentingan nasional negara-negara besar lebih diorientasikan bagi upaya menjaga kestabilan ekonomi yang ditopang oleh kekuatan politik dan militer. Dengan kenyataan demikian, konflik yang potensial terjadi adalah konflik-konflik berdimensi ekonomi, seperti konflik perebutan sumber daya (resource wars) ataupun konflik yang dilandasi oleh upaya mengamankan jalur transportasi perdagangan internasional, yang Pada masa pemerintahan Soeharto tahun 1966, Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS menyetujui suatu program bantuan militer yang kecil ($6 juta). Bantuan dibatasi pada peralatan, perlengkapan dan pelatihan yang membantu program pembangunan ekonomi, termasuk program aksi demi kepentingan umum dari angkatan bersenjata dan transportasi militer yang dibutuhkan. Saat itu, hubungan kerjasama militer melalui bantuan dana dan persenjataan termasuk dalam bantuan multilateral AS terhadap Indonesia. khususnya adalah jalur laut perdagangan internasional..
Pada masa pemerintahan Soeharto tahun 1966, Departemen Luar Negeri dan Departemen Pertahanan AS menyetujui suatu program bantuan militer yang kecil ($6 juta). Bantuan dibatasi pada peralatan, perlengkapan dan pelatihan yang membantu program pembangunan ekonomi, termasuk program aksi demi kepentingan umum dari angkatan bersenjata dan transportasi militer yang dibutuhkan. Saat itu, hubungan kerjasama militer melalui bantuan dana dan persenjataan termasuk dalam bantuan multilateral AS terhadap Indonesia.
Sejak pertengahan tahun 1990-an, militer AS telah mengirimkan sejumlah Jenderalnya ke Jakarta bahkan menempatkan kapal perangnya ke bandara Jakarta untuk kunjungan persahabatan sambil memelihara akses militer dengan Indonesia, dan Indonesia mengirimkan puluhan Perwiranya ke AS setiap tahun untuk program pertukaran dan pelatihan di AS. Namun demikian, hubungan baik antara Indonesia dan AS di bidang pertahanan dan keamanan pada kenyataannya bukan tanpa konflik, banyak terdapat ganjalan pada pertengahan tahun 1990. Pemerintah Indonesia sempat membatalkan rencana pembelian pesawat tempur F16 dari AS dan penarikan mundur keterlibatan militer Indonesia dalam program IMET (International Military Education and Training). Keputusan tersebut diambil sebab pemerintah AS dianggap terlalu mencampuri urusan politik dalam negeri Indonesia, dimana AS selalu mengkaitkan pembelian pesawat tempur dengan berbagai pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia khususnya Timor Leste.
Amerika Serikat melihat bahwa terjadinya kerusuhan dan pelanggaranAmerika Serikat melihat bahwa terjadinya kerusuhan dan pelanggaran HAM di beberapa wilayah Indonesia tidak terlepas dari campur tangan militer. Insiden Dili 12 November 1991 telah menjadi sorotan negatif yang sangat meluas khususnya di kalangan media, aktivis HAM dan Kongres, tindakan pemerintah AS yang membatalkan program bantuannya setelah peristiwa ini mendapat dukungan dari Kongres. Sejak tahun 1991 hingga 1994, pemerintah AS telah tiga kali memberikan sanksi kepada Indonesia.
Pertama, AS membatalkan program bantuan militer IMET kepada Indonesia, kedua, pemerintah AS melakukan hak veto atas penjualan pesawat tempur F5 buatan AS dari Jordania kepada Indonesia, ketiga, pemerintah AS melarang penjualan berbagai jenis senjata mematikan yang dapat digunakan oleh pasukan pengendali massa apabila terjadi demonstrasi atau kerusuhan.
KESIMPULAN
Dampak hubungan Indonesia dan AS terhadap hasil tentang stabilitas keamanan diIndonesia berdasarkan hasil analisis serta data dan landasan konseptual, maka dapat disimpulkan bahwa: Hubungan Indonesia dan AS dalam kerjasama antara kedua negara terutama dalam bidang keamanan tidak terus mengalami hubungan yang harmonis. Ada kalanya terdapat kerikil-kerikil tajam yang membuat hubungan kedua negara ini menjadi goyah karena adanya perbedaan persepsi serta ideologi dari masyarakat AS maupun Indonesia. Akan tetapi, semuanya itu dapat dilalui oleh kedua negara ini dimana keduanya pun memiliki tujuan yang sama untuk menciptakan stabilitas keamanan nasional, keamanan kawasan serta keamanan dunia. Kerjasama bilateral antara kedua negara dalam bidang keamanan, memberikan dampak yang baik bagi Indonesia. Dimana, beberapa kasus yang mengganggu stabilitas keamanan Indonesia berhasil diselesaikan dengan baik, seperti aksi-aksi teroris yang memberikan kekhawatiran bagi masyarakat Indonesia berhasil diungkap dan para pelakunya pun telah dijatuhi hukuman. Peluang kerjasama Indonesia dan AS membuat kerjasama antarnegara ini memiliki prospek kerjasama yang baik. Keinginan kedua negara dalam memerangi terorisme membuat hubungan bilateral keduanya semakin terbuka dan adanya saling ketergantungan kedua negara dimana keduanya merupakan negara terbesar dan memiliki pengaruh baik di kawasan maupun dunia. Adapun tantangan yang dihadapi, upaya dari AS untuk merubah pandangan masyarakat Indonesia bahwa kerjasama ini hanya sebagai pendekatan AS di Indonesia yang adalah negara Muslim terbesar di dunia, dimana Amerika Serikat dapat bekerja sama dengan negara Muslim lainnya seperti yang berada di daerah Timur Tengah. Hal ini dikarenakan, pemerintahan Amerika Serikat sebelum era Presiden Obama melakukan berbagai penyerangan seperti di Afghanistan dan Irak. Akan tetapi, dengan terpilihnya Obama menjadi Presiden Amerika Serikat, merubah pola kebijakan Amerika yang akan mengadakan hubungan setara dengan negara-negara lain seperti negara-negara di Timur Tengah, sehingga Amerika dapat melakukan kerjasama dengan semua negara di dunia.
REFRENSI
Buku :
Hassan wirajuda, Percikan Pemikiran Diplomat Indonesia , PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta 2004
Morgenthau, Hans J. Politik Antarbangsa Perjuangan Untuk Kekuasaan dan Perdamaian. PT.Banacipta, Bandung 2001.
Skripsi:
A.Herawati, 2002, Analisis Hubungan Kerjasama Militer Indonesia-AS : Masalah dan Prospek (2000-2005), Universitas Hasanuddin
Website:
http://www.theindonesianinstitute.com/index.php/pendidikan-publik/wacana/269
kerja-sama-indonesia-amerika
http://www.propatria.or.id/download/Paper%20Diskusi/konsep_kamnas_rs.pdf
http://nasional.kompas.com/read/2008/05/25/16024875/setelah.8.tahun.as.cabut.travel.warning.ke.indonesia
http://eritristiyanto.wordpress.com/2010/03/29/posisi-geografis-posisi-letak-
indonesia/
http://www.fauzibowo.com/artikel.php?id=192&option=view
http://id.wikipedia.org/wiki/Tentara_Nasional_Indonesia
http://rudisony.wordpress.com/2009/06/04/sejarah-kepolisian-indonesia/
http://en.wikipedia.org/wiki/United_States_Armed_Forces
http://sespim.polri.go.id/v09/index.php/artikel/3-artikel-sespim/54-polri-dan-ham
http://id.wikipedia.org/wiki/Kepolisian_Negara_Republik_Indonesia
http://artikelindonesia.com/sejarah-densus-88-anti-teror-mabes-polri.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Detasemen_Khusus_88
http://koranbaru.com/profile-pasukan-elite-indonesia/
http://m.mediaindonesia.com/index.php/read/2011/07/07/240166/284/1/Indonesia_AS_Latihan_Militer_di_Laut_Jawa
http://www.antaranews.com/berita/266367/ri-as-latihan-militer-di-laut-jawa
http://www.voanews.com/indonesian/news/a-32-2005-11-23-voa7-85405487.html
http://www.mediaumat.com/fokus/2184-44-inilah-isi-kemitraan-komprehensif-as-
indonesia-.html
http://m.republika.co.id/berita/shortlink/32336
http://indonesian.jakarta.usembassy.gov/prid_23072010.html
http://dunia.vivanews.com/news/read/178146-poin-poin-kemitraan-komprehensif-as-indonesia
http://www.voanews.com/indonesian/news/politics/Amerika-akan-Lanjutkan-
Hubungan-dengan-Kopassus-99001164.html
http://www.voanews.com/indonesian/news/Dino-Patti-Djalal-Hubungan-AS-
Indonesia-akan-Lebih-Setara-100919354.html
Komentar
Posting Komentar