Arab Saudi, dari Negara Minyak menuju “Visi 2030” dan Implikasinya terhadap Indonesia

Arab Saudi, dari Negara Minyak menuju “Visi 2030” dan Implikasinya terhadap Indonesia

oleh:
Sintaya Luchma Fudia 
 Mohammad Rahadian Surya 

Program Studi Hubungan Internasional
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

ABSTRACT
As we know that nations in the sub-region of the Middle East is an oil-rich country. Many Middle Eastern countries are vying to explore these natural resources. However, a lot of countries in the Middle East are concernin on their economy that is too dependent on petroleum. They cannot depend on oil anymore, especially at the current condition of world oil prices is stagnating and tend to be low. As a result, the economic growth of Middle Eastern countries will be slowing down if they are forced to remain dependent on petroleum.
Saudi Arabia, one of the Middle East countries, is taking a revolutionary step that could change the 'face' of its country by formulating "Vision 2030". An important point in the vision is the reduction of Saudi Arabia's economic dependency from the oil and gas sector. In addition, Saudi Arabia also encourages the entry of foreign investment from various countries, including Indonesia. Through this journal, we are going to explain the history and economic development of Saudi Arabia prior to the Vision 2030, the prospect of Vision 2030 and its impact for Indonesia.
Keywords: Saudi Arabia, Vision 2030, Petroleum, Indonesia

ABSTRAK
Sudah menjadi rahasia umum bahwa sub-region Timur Tengah bagaikan harta karun yang berisi emas hitam (minyak bumi). Banyak dari negara Timur Tengah berlomba-lomba untuk mengekplorasi sumber daya alam tersebut. Namun, semakin lama semakin banyak negara di Timur Tengah sadar akan perekonomiannya yang terlalu bergantung pada minyak bumi. Mereka tidak bisa bergantung lagi pada minyak bumi, terlebih kondisi harga minyak dunia akhir-akhir ini yang stagnan dan cenderung rendah. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi negara-negara Timur Tengah akan melambat bila memaksa untuk tetap bergantung terhadap hasil bumi, yakni minyak bumi.
Arab Saudi, salah satu negara Timur Tengah, mengambil langkah yang revolusioner dan mampu merubah ‘wajah’ dari negara itu sendiri dengan merumuskan “Visi 2030”. Poin penting yang ada dalam visi tersebut adalah pengurangan dependensi ekonomi Arab Saudi dari sektor minyak dan gas (migas). Selain itu, dalam visinya, Arab Saudi juga mendorong masuknya investasi asing dari berbagai negara, termasuk juga Indonesia. Melalui jurnal ini, kami berusaha untuk memaparkan sejarah dan perkembangan ekonomi Arab Saudi sebelum adanya Visi 2030, prospek dari Visi 2030 dan dampaknya bagi negara Indonesia.
Kata kunci: Arab Saudi, Visi 2030, Minyak bumi, Indonesia

PENDAHULUAN
Minyak bumi telah menjadi komoditas utama yang bisa ‘ditawarkan’ oleh Timur Tengah. Bila dilihat pada awal abad ke 20 Masehi, sumur minyak yang berada di Timur Tengah pertama kali ditemukan di lokasi yang bernama Masjed Soleyman, barat daya Iran, pada 26 Mei 1908 dan tiga tahun kemudian minyak tersebut dialirkan ke fasilitas penyulingan minyak di Abadan, Iran (Longrigg, 1968). Selanjutnya sumber minyak kembali ditemukan di Irak pada tahun 1927, Bahrain pada tahun 1931, dan diikuti beberapa negara Timur Tengah lainnya seperti Kuwait, Qatar, Arab Saudi, UAE, dan Oman (Owen, 2008).
Arab Saudi, negara gurun pasir yang ternyata didalamnya menyimpan ratusan juta kubik minyak, kini menjelma sebagai negara kaya dan ‘berlimpah harta’. Tahun demi tahun beberapa sumur minyak baru ditemukan, diiringi dengan pertumbuhan ekonomi Arab Saudi yang stabil. Bahkan, pada medio 2005-2015, ketika Arab Saudi masih dipimpin oleh Raja Abdullah, minyak bumi menyumbang sekitar 90 persen pendapatan negara yang berjumlah 300 miliar US$ pertahun selama 5 tahun (House, 2017). Dan pada medio tersebut pula pertumbuhan ekonomi Arab Saudi pertahunnya mencapai angka 5,5 persen.
Namun, yang terjadi dalam medio tahun 2015 adalah anjloknya harga minyak dunia ke angka 59 US$ per barrel berdasarkan data dari Jadwa Investment (2015). Dengan negara yang pendapatannya sebagian besar dari penjualan minyak bumi, penurunan harga minyak dunia tentu berimbas pada perekonomian Arab Saudi. Bahkan, pada medio tahun tersebut, keuangan Arab Saudi mengalami defisit sebesar 145 miliar Saudi Real, atau sebesar 38,66 miliar US$ (Jadwa Investment, 2015).
Tentu, pemerintah Kerajaan Arab Saudi harus memutar otak agar nilai neraca perekonomiannya tidak terus menurun mengikuti harga minyak dunia yang juga menurun.

 PEMBAHASAN
Sejarah Perminyakan di Arab Saudi
Arab Saudi yang dikenal dengan memiliki cuaca yang panas dan bergurun, berkembang pesat saat ditemukannya sumber minyak yang tidak ada habisnya. Hal ini memunculkan pertanyaan di sebagian besar kelangan masyarakat. Bagaimana awal mula Arab Saudi menemukan minyak hingga merubah peradaban di Arab Saudi? Bahwa disebutkan dalam sejarah bahwa ketika itu Raja Arab Saudi Abdul Aziz Abdul Rahman Al As-Saud menyewa sekelompok Insinyur dari Amerika Serikat untuk mengeksplorasi gurun yang luas yang berbatasan dengan teluk Persia. Gurun tersebut sangat kering dan hanya ditumbuhi oleh beberapa pohon palem saja. Awal mulanya Raja Arab hanya menginginkan para insinyur hanya menemukan sumber air saja mengingat keadaan Arab yang memang kekurangan air. Sehingga tujuan utamanya bukanlah untuk mencari sumber minyak bumi.
            Para insinyur kemudian melakukan pengeboran selama 4 tahun dan lebih dari setengah lusin lubang telah digali. Nemun ternyata sumber air yang diharapkan tidak muncul ke permukaan. Di tengah keputusasaan, para insinyur mencoba menggali lebih dalam pada sumur ke tujuh di Dhahran hingga mencapai kedalaman 4.727 kaki atau sekitar 1440,7 meter. Justru par insinyur menemukan sumber minyak mentah terbesar di Dunia, tepatnya pada tanggal 3 Maret 1938. Meski awalnya tidak tertarik dengan penemuan minyak itu, namun setahun kemudian Raja beserta rombongan pun bisa memanfaatkannya sengan mengerahkan 400 mobil ke stasiun pemompaan Ras Tanura yang menjadi tanker pertama di Arab Saudi. Sejak saat itulah, penemuan minyak mentah di Arab Saudi langsung mengubah sejarah. Tak hanya di daerahnya saja namun juga di seluruh dunia.  J. Paul Getty mengatakan bahwa “minyak seperti hewan liar,siapa yang bisa menangkapnya akan mendapatkan segalanya.”
            Dulu Arab Saudi hanya dikenal dengan gurun pasir dan tempat suci umat muslim, namun kini Arab Saudi juga dikenal dengan menjadi negara paling kaya dan memiliki perekonomian yang sangat pesat. Bisa dikatakan pula bahwa 90% pendapatan Saudi berasal dari minyak. tak salah jika Arab Saudi membangun infrastruktur yang kuat mulai dari sumur-sumur minyak, pipa, kilang dan pelabuhan. Yang memiliki posisi tawar terkait pasokan energi global, menjadi negara “petro dollar”.  Arab yang dulu penduduknya nomaden, sebelumnya mengandalkan pendapatan dari para Jemaah yang beribadah ke Mekkah dan Madinah. ARAMCO (Saudi Aramco) merupakan perusahan minyak bumi yang dimiliki Arab. Dalam situs forbes.com pada bulan maret 2015 menyebutkan bahwa Aramco merupakan perusahaan energi terbesar di Dunia. Aramco mampu menghasilkan 12 juta BOEPD (barrels of oil equivalent per day/barel setara minyak per hari). Aramco memiliki serta mengelola semua tambang minyak dan gas yang berada di Arab Saudi.

Nasionalisasi Perusahaan Aramco 
Arab Saudi merupakan kerajaan miskin. Sebagian masyarakatnya adalah Badui yang hidup nomaden. Sebagian lagi menjalankan pertanian hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga. Pendapatan kerajaan terutama melalui perputaran uang yang terjadi saat Haji. Namun keadaan berubah saat minyak ditemukan di wilayah Timur Arab Saudi (pesisir teluk Persia) tahun 1938. Sejak 1922, Inggris sudah mencari sumber minyak di teluk Persia. Pada 1927, Amerika Serikat mulai terlibat dalam pencarian tersebut. Diantara perusahaan AS yang ikut mencari sumber minyak di teluk Persia adalah Standart Oil of California (SOCAL). Socal saat ini telah berganti nama menjadi Chevron. Socal merupakan salah satu perusahaan pecahan dari Standart Oil. Standart Oil sendiri didirikan oleh John D. Rockefeller pada 1870 di Ohio. Pada masanya, Standart Oil merupakan perusahaan minyak terbesar di dunia dengan jejaring bisnis hingga Tiongkok dan Timur Tengah. Standart Oil menguasai bisnis minyak dari Hulu sampai ke Hilir, mulai penambangan, pengiriman, penyulingan, sampai pada penjualan. Pada 1911, Mahkamah Agung AS menyatakan bahwa Standart Oil melakukan monopoli yang melanggar hukum. Standart Oil kemudian dipecah menjadi beberapa perusahaan, diantara perusahaan turunan Standart Oil saat ini adalah ExxonMobil dan Chevron.
Pada 1933, Arab Saudi memberi izin kepada socal untuk mencari sumber minyak di Timur kerajaan. Socal kemudian mendirikan perusahaan California Arabian Standart Oil Company (Casoc) untuk menindaklanjuti izin tersebut. Pada 1938 pecah perang Dunia II, AS dan sekutunya banyak membeli minyak dari Arab Saudi. Pada 1944, untuk lebih menonjolkan nama AS, kata California diganti menjadi Arabian American Oil Company (Aramco). Pada 1950, Raja Arab Saudi, Abdul Aziz, meminta pembagian laba 50/50 atau Aramco akan di nasionalisasi. Aramco pun menyetujui. antara 1939 dan 1953, pendapatan minyak dari Arab Saudi meningkat dari 7 juta menjadi 200 juta dolar AS.  Pada 1973, AS mendukung Israel dalam perang Yom Kippur. Raja Arab Saudi, Faisal bin Abdul Aziz al-Saud, kemudian memimpin negara-negara Arab untuk melakukan Embargo minyak terhadap AS dan beberapa negara pendukung Israel. Raja Faisal juga mengambil alih 25% saham Aramco. Pada tahun 1974, Raja Faisal kembali meningkatkan kepemilikan saham menjadi 60%. Namun pada 1975, Raja Faisal dibunuh oleh kerabatnya yakni Faisal bin Musaid yang baru pulang dari AS.
            Pada 1980, pemerintahan Raja Khalid membeli sisa saham Aramco sehingga seluruh saham Aramco dimiliki oleh kerajaan Arab Saudi. Namun mitra-mitra Aramco masih mengelola ladang minyak Arab Saudi. Mitra Aramco antara lain adalah Socal, Texaco, dan ExxonMobile. Rockefeller memiliki saham di empat perusahaan tersebut. Pada 1988, pada masa pemerintahan Raja Fahd, Aramco berganti nama menjadi Saudi Arabian Oil Company (Saudi Aramco). Saudi Aramco pun mengambil alih pengelolaan ladang minyak dan gas Arab Saudi dari mitra-mitra Aramco.

Nasionalisasi Bukan Tujuan Akhir
“Jikalau sekiranya penduduk beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (Q.S. Al A’raf :96)
Penemuan minyak telah mengubah perekonomian Arab Saudi. Kerajaan yang miskin dan terbelakang tersebut telah berubah menjadi salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi tersepat di Dunia.
Namun perusahaan minyak asing adalah pemilik sejati dari kekuatan ekonomi tersebut. meskipun sumber minyak berada di Saudi, tetapi pengambilan keputusan berada di New York, Dallas dan Fransisco. Pekerja Saudi pun menerima upah yang jauh lebih rendah daripada pekerja asing. Perusahaan minyak asing juga tidak terlalu peduli pada masyarakat dan lingkungan di sekitar penambangan minyak. Pola yang mereka lakukan adalah mencari sumber minyak, mengisapnya secepat dan semurah mungkin, lalu meninggalkannya untu mencari sumber minyak baru. Sehingga sumur-sumur minyak kemudian dibiarkan merusak lingkungan. Nasionalisasi Aramco telah mengembalikan penduduk Saudi sebagai pemilik sah kekuatan ekonomi tersebut. Mereka mulai menjaga lingkungan serta memberdayakan masyarakat. Pemerintahpun banyak membangun sekolah-sekolah.
Pada 1975, terdapat 3,028 sekolah dasar, 649 sekolah menengah, dan 182 sekolah lanjutan. Pada 1980, jumlah tersebut meningkat menjadi 5,373 sekolah lanjutan. Pemerintah Saudi juga membangun pusat industri di Jubail dan Yanbu pada 1975. Perusahaan asing sangat takut dengan gagasan Nasionalisme. Merekan akan melakukan apa saja untuk mencegah nasionalisasi. Diantaranya melalui pembelian saham. Nasionalisasi akan memberi kesempatan bagi pemerintah untuk memperoleh alih tekhnologi, mengganti pekerja asing dengan penduduk setempat, serta memberi pekerjaan turunan bagi pengusaha dalam negeri. Minyak tidak hanya membuat Saudi makmur, namun juga menjadikan negara tersebut sangat bergantung padanya. CIA World Fact Book menyebutkan bahwa sekitar 80% anggaran pendapatan Arab Saudi serta 90% pendapat ekspornya berasal dari minyak. Karena itu nasionalisasi bukanlah akhir dari kemerdekaan ekonomi. Nasionalisasi merupakan modal untuk mengembangkan sumber daya ekonomi lainnya. Sehingga kemerdekaan ekonomi dapat tercapai melalui pergerakan pilar ekonomi yang memenuhi kebutuhan dasar, dapat diperbarui, dan memberdayakan banyak orang.


Visi 2030 Arab Saudi
Vision 2030 Kingdom of Saudi Arabia merupakan program ambisius yang didalamnya berisi rencana untuk merungangi ketergantungan perekonomiannya dari minyak bumi, diversifikasi ekonomi, memajukan sektor pelayanan publik seperti pendidikan, kesehatan, infrastruktur, dan pariwisata negara Arab Saudi.  
Terdapat beberapa pilar penting dalam Visi 2030 yang dicanangkan oleh Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud –yang biasa dikenal sebagai anak dari Raja Salman bin Abdulazin Al Saud. Sebagaimana dikutip dari pidatonya, Raja Salman berusaha untuk merubah ‘wajah’ dari Arab Saudi melaui Visi 2030 tersebut.

The first pillar of our vision is our status as the heart of the Arab and Islamic world ... The second pillar of our vision is our determination to become a global investment powerhouse ... The third pillar is transforming our unique strategic location into a global hub connecting three continents, Asia, Europe and Africa.” (Vision 2030, 2016)

            Bila dilihat dari pilar pertama, negara Arab Saudi berusaha untuk menunjukkan statusnya sebagai jantung dari dunia Islam. Memang, tanpa pengakuan pun Arab Saudi sudah dikenal sebagai pusat dari peradaban Islam –dengan adanya Ka’bah yang menjadi kiblat umat Islam dan dua masjid yang sangat dikenal oleh umat muslim, yakni Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Namun, menurut pandangan penulis, pilar pertama dalam Visi 2030 memiliki makna tersirat diluar dari apa yang anak mahkota dari Raja Salman ucapkan.
            Menjadi jantung dari peradaban Islam merupakan tugas besar bagi negara sekelas Arab Saudi. Tercatat, bahwa sekitar 8 juta turis memasuki Arab Saudi, yang mana dari angka tersebut, 6,75 juta merupakan turis muslim yang melaksanakan ibadah Haji per bulan Juli 2017 (Saudi Gazette, 2017). Dalam Visinya, Arab Saudi terus mendorong masyarakat Muslim yang tersebar di seluruh dunia untuk Haji dan Umrah, dengan ekspektasi mencapai 30 juta jamaah Haji dan Umrah per tahun (Vision 2030, 2016). Diharapkan, dengan semakin banyak pengunjung yang memasuki negara tersebut, baik itu jamaah Haji, Umroh maupun wisatawan biasa, maka semakin banyak pendapatan bukan dari komoditas minyak yang diperoleh Pemerintahan Kerajaan Arab Saudi.
Demi merealisasikan rencana 30 juta pengunjung tersebut, Arab Saudi terus berbenah dalam sektor pariwisata dan infrastruktur. Salah satu program yang dicanangkan adalah perluasan dan renovasi Masjidil Haram fase ketiga, yang menelan biaya hingga 35 miliar US$ dengan harapan mampu menampung hingga 1,6 juta jamaah per harinya (The National, 2015). Selain itu, di sektor infrastruktur juga, Arab Saudi telah membangun kereta cepat yang menghubungkan Makkah dan Madinah melalui Jeddah dan Bandara Internasional King Abdul Aziz, yang direncanakan mulai beroperasi pada akhir tahun 2017 (Arab News, 2017). Bandara Internasional King Abdul Aziz juga tak luput dari renovasi dan perluasan. Perluasan Bandara Internasional King Abdul Aziz terbagi menjadi tiga fase, yakni fase pertama yang ditargetkan untuk selesai pada tahun 2017, fase kedua pada tahun 2025 dan fase ketiga pada tahun 2035, yang mana proyek tersebut diproyeksikan dapat menampung 80 juta pengunjung tiap tahunnya (ProTenders, n.d.).
Yang tidak kalah penting dalam mempromosikan Arab Saudi sebagai pusat dari peradaban Islam dunia adalah menjadikan Islam di Arab Saudi sebagai Islam yang moderat. Rencana tersebut merupakan gagasan dari Mohammad bin Salman bin Abdulaziz Al Saud, yang menganggap bahwa Arab Saudi pada tahun 2017 tidak-lah sama seperti Arab Saudi tahun 1979 ketika revolusi di Iran dan serangan teroris di Masjidil Haram berkecamuk, yang membuat Kerajaan Arab Saudi menerapkan peraturan ketat yang berbasis Islam.
Dikutip dari pidatonya pada suatu konferensi ekonomi di Riyadh, concern terhadap Islam yang liberal dan moderat dimunculkan oleh Mohammad bin Salman bin Abdul Aziz.
We are returning to what we were before –a country of moderate Islam that is open to all religions, traditions, and people around the globe ... We want to live a normal life. A life in which our religion translates to tolerance, to our traditions of kindness ... Seventy percent of the Saudi population is under 30, and honestly we will not spend the next 30 years of our lives dealing with the destructive ideas. We will destroy them today and at once.” (BBC, 2017)
Salah satu lompatan penting dalam penerapan Islam moderat di Arab Saudi adalah pencabutan larangan wanita untuk mengemudikan kendaraan bermotor. Pada bulan September 2017, Raja Salman mengisukan untuk mencabut larangan wanita untuk mengemudikan mobil, sepeda motor hingga truk dan bus, yang diharapkan dapat berlaku efektif pada akhir tahun 2017 (Reuters, 2017).  Dalam mempromosikan Islam yang moderat, Arab Saudi juga memutuskan untuk mencabut larangan mendirikan bioskop dan menonton film di bioskop. Di tangan anak mahkota Raja Salman, 35 tahun sejak bioskop di Arab Saudi terakhir berdiri, beliau mencabut peraturan tersebut dan mulai Maret 2018 rakyat Arab Saudi bisa menonton film di berbagai bioskop yang tersebar di negara tersebut (Reuters, 2017).
Pilar kedua, yang menjadi sorotan utama terhadap Visi 2030, adalah reformasi ekonomi negara Arab Saudi dengan membuat kebijakan seperti mendorong masuknya investasi asing, privatisasi dan lain-lain. Telah dikenal lama bahwa pemasukan utama yang mengisi ‘dompet’ Arab Saudi adalah pendapatan dari sektor minyak bumi. Maka dari itu, salah satu program yang ada dalam Visi 2030 adalah diversifikasi ekonomi. Saudi terus mendorong berbagai sektor bukan minyak untuk terus berkembang hingga ketergantungan terhadap minyak semakin menurun.
Salah satu langkah yang diambil Saudi adalah transformasi perusahaan minyak terbesar di Arab Saudi dan bahkan di dunia, yakni Aramco. Aramco merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arab Saudi yang market value-nya telah mencapai 10 triliun US$ (Wall Street Journal, 2016). Transformasi yang dilakukan Arab Saudi terhadap Aramco adalah merubah bentuk perusahaan itu sendiri dari oil producing company menjadi industri konglomerat global. Selain itu, Arab Saudi juga memutuskan, berkaitan dengan Aramco, untuk menjual beberapa aset yang dimilikinya. Sekitar 5 persen dari saham Aramco akan dijual di pasar modal serta pelepasan 49 persen saham Bandara King Khaled, yang mana kedua kebijakan tersebut merupakan bagian dari effort Arab Saudi untuk memperoleh pendapatan sebesar 200 miliar US$ (Middle East Eye, 2017).
Sealin itu, dalam Visi 2030, Arab Saudi juga mendorong Small and Medium Enterprises (SMEs) untuk semakin aktif dalam kegiatan ekonomi.  SMEs masih belum menjadi kontributor utama dalam GDP Arab Saudi. Melihat potensi SMEs sebagai pendorong perekonomian bukan minyak rakyat Saudi, pemerintahan Kerajaan Arab Saudi mencanangkan berbagai program, seperti pelatihan entrepreneurship, privatisasi dan pendirian industri baru, yang diharapkan dapat meningkatkan kontribusi SMEs dalam GDP Arab Saudi yang semula 20 persen menjadi 35 persen (Vision 2030, 2016).
Pilar ketiga merupakan pilar yang menjabarkan potensi geografis Arab Saudi. Tiga benua, yang mana kedua benua tersebut adalah benua Asia dan Afrika, secara geografis menempatkan Arab Saudi sebagai pintu gerbang utama. Salah satu proyek ambisius yang Arab Saudi kerjakan adalah membangun jembatan yang menghubungkan Mesir dengan Arab Saudi. Jembatan yang membentang Laut Merah ini memiliki panjang sekitar 30 mil, yang menelan biaya sekitar 3-4 miliar US$ (BBC, 2016).
Selain itu, proyek yang sedang digarap oleh Arab Saudi adalah zona industri dan ekonomi yang mengubungkan Mesir dan Yordania. Sebagaimana yang dikatakan oleh salah satu pejabat Arab Saudi kepada wartawan The Jordan Times, proyek ini menelan biaya sebesar 500 miliar US$;
“The project, which will connect Asia to Africa by creating a special zone stretching from Saudi Arabia’s borders to Jordan and Egypt, will strengthen the economies of the three countries, enhance trade and open new markets for their exports. (The Jordan Times, 2017)

Visi 2030 dan Dampaknya bagi Indonesia
            Arab Saudi merupakan mitra dagang Timur Tengah strategis bagi Indonesia. Tercatat, nilai perdagangan dengan komoditas bukan minyak antara Indonesia dengan Arab Saudi sebesar 1,83 miliar US$ untuk ekspor Indonesia dan 921,23 juta US$ untuk ekspor Arab Saudi (Kompas, 2017). Bahkan, pada 1 Maret, 2017, Raja Salman datang ke Indonesia dan menawarkan investasi bagi Indonesia. Kunjungan Raja Arab Saudi yang telah vakum sejak 46 tahun yang lalu itu, membawa investasi sebesar 89 triliun Rupiah atau sekitar 6,9 miliar US$ (Kompas, 2017). Presiden Indonesia, Joko Widodo, menyambut baik niatan Raja Salman.
            Dalam pertemuan itu juga, Arab Saudi mendorong agar Indonesia juga berinvestasi di Arab Saudi, yang sejalan dengan Visi 2030 yang berusaha mendorong masuknya investasi asing ke dalam Arab Saudi. Indonesia tidak akan menyia-nyiakan momentum tersebut. Presiden Joko Widodo pun siap mengawal Visi 2030 Arab Saudi, sebagaimana dilansir dari Liputan6.com (2017),
"Saya yakin Indonesia dapat menjadi mitra strategis dalam upaya mencapai visi 2030 Arab Saudi, melalui kerja sama ekonomi yang erat sebagai sesama negara muslimBagi Indonesia, Arab Saudi merupakan salah satu mitra terpenting di Timur Tengah baik dari segi hubungan antar masyarakat maupun hubungan ekonomi dan politik," ujar Jokowi.
            Salah satu wujud dari pertemuan antara Raja Salman dengan Presiden Joko Widodo adalah pembangunan perumahan oleh BUMN Indonesia di Arab Saudi, walaupun masih pada tahap penandatanganan nota kesepahaman. BUMN Wijaya Karya (WIKA) merupakan kontraktor utama dalam pembangunan perumahan yang menelan biaya sekitar 2 miliar US$ (Liputan 6, 2017). Meskipun WIKA masih menjadi kontraktor dan bukan sebagai investor, hal tersebut merupakan langkah awal bagi Indonesia dalam ‘mengawal’ Visi 2030 Arab Saudi.

KESIMPULAN
            Visi 2030 merupakan blueprint ambisius bagi negara Arab Saudi demi menghindari ketergantungan perekonomiannya terhadap minyak bumi. Meskipun begitu, banyak kritik yang dilontarkan dari berbagai kalangan karena rancangan tersebut kelewat ambisius, yang mana mereka meragukan apakah Arab Saudi bisa melakukannya, atau malah mandek di tengah jalan. Namun, bila Arab Saudi konsisten dengan pendiriannya, niscaya Arab Saudi dapat sukses dengan Visi 2030 yang mengusung diversifikasi ekonomi, dengan mendorong kegiatan ekonomi di sektor bukan minyak.

REFERENSI

_______. 2017. “6 percents jump in number of Umrah pilgrims.” Saudi Gazette. 25 Juni. Diakses Desember 20, 2017. http://saudigazette.com.sa/article/181214/6-jump-in-number-of-Umrah-pilgrims.
_______. 2017. Arab News. 19 Juli. Diakses Desember 20, 2017. http://www.arabnews.com/node/1131811/saudi-arabia.
Baxter, Kevin, dan Summer Said. 2016. “Business: Could Saudi Aramco Be Worth 20 Times Exxon?” The Wall Street Journal. 8 Januari. Diakses Desember 21, 2017. https://www.wsj.com/articles/saudi-aramco-confirms-ipo-study-1452254819.
Fahy, Michael. 2015. “King Salman launches five projects at Grand Mosque in Mecca.” The National. 12 Juli. Diakses Desember 20, 2017. htpps://thenational.ae/business/property/king-salman-launches-five-projects-at-grand-mosque-in-mecca-1.612283.
Fakhri. t.thn. “Konsepsi Minyak Arab Saudi masa Abdul Aziz Ibnu Saud.” Jurnal Keluarga dan Masa Depan Kerajaan Arab Saudi. Ic-mes.org/politics/jurnal-keluarga-dan-masa-depan-kerajaan-arab-saudi.
Ghazal, Mohammad. 2017. “Local News: Kingdom welcomes Saudi Arabia’s investment zone plan.” The Jordan Times. Oktober 26. Diakses Desember 21, 2017 . http://www.jordantimes.com/news/local/kingdom-welcomes-saudi-arabia%E2%80%99s-investment-zone-plan.
Hitti, Phillip K. t.thn. History of the Arabs. Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.
House, Karen Elliot. 2017. “Saudi Arabia in Transition: From Defense to Offense, But How to Score?” (Belfer Center for Science and International Affairs) 8.
Jadwa Investment. 2014. “Saudi Arabia's 2015 fiscal budget.” Budgetary Report, Riyadh.
Julianto, Pramdia Arhando. 2017. “Makro: Indonesia Tingkatkan Kerja Sama Bidang Perdagangan dengan Arab Saudi.” Kompas. 2 Maret. Diakses Desember 21, 2017. http://ekonomi.kompas.com/read/2017/03/02/202908226/indonesia.tingkatkan.kerja.sama.bidang.perdagangan.dengan.arab.saudi.
Kanso, Heba. 2017. “Article: Saudi women can rev up motorbikes and trucks after driving ban lifted.” Reuters. 19 Desember. Diakses Desember 20, 2017. https://www.reuters.com/article/us-saudi-driving-motorcycles/saudi-women-can-rev-up-motorbikes-and-trucks-after-driving-ban-lifred-idUSKBN1EC29I.
_______. t.thn. “King Abdulaziz International Airport Expansion.” ProTenders. Diakses Desember 20, 2017. https://www.protenders.com/projects/king-abdulaziz-international-airport-expansion.
Kingdom of Saudi Arabia, Council of Economic and Development Affairs of Saudi Arabia. 2016. Vision 2030. Diakses Desember 21, 2017. http://vision2030.gov.sa/en.
Kuwado, Fabian Januarius. 2017. “Nasional: Kekecewaan Jokowi Usai Melihat Nilai Investasi Arab Saudi di China.” Kompas. 13 April. Diakses Desember 21, 2017. http://nasional.kompas.com/read/2017/04/13/14295111/kekecewaan.jokowi.usai.melihat.nilai.investasi.arab.saudi.di.china.
Lacy, Robert. t.thn. Kerajaan Petrodollar Saudi Arabia. jakarta: Dunia Pustaka Jaya.
Longrigg, Stephen Hemsley. 1968. Oil in the Middle East: Its Discovery and Development. London: Oxford University Press.
MEE correspondent. 2017. “Saudi’s economy: Why Vision 2030 will fail.” Middle East Eye. 25 Agustus. Diakses Desember 21, 2017. http://www.middleeasteye.net/columns/saudis-economic-future-six-problems-it-needs-solve-vision-2030-plan-1907352248.
_______. 2017. “Middle East: Crown prince says Saudis want return to moderate Islam.” BBC. 25 Oktober. Diakses Desember 20, 2017. http:/www.bbc.com/news/world-middle-east-41747476.
_______. 2016. “Middle East: Saudi Arabia and Egypt announce Red Sea bridge.” BBC. 8 April. Diakses Desember 21, 2017. http://www.bbc.com/news/world-middle-east-35999557.
Owen, E. Roger. 2008. “One Hundred Years of Middle Eastern Oil.” Middle East Brief 1.
Paul, Katie. 2017. “World News: Saudi Arabia lifts cinema ban, directors and movie chains rejoice.” Reuters. 11 Desember. Diakses Desember 20, 2017. https://www.reuters.com/article/us-saudi-film/saudi-arabia-lifts-cinema-ban-directors-and-movie-chains-rejoice-idUSKBN1E50N1.
Romadoni, Ahmad. 2017. “Peristiwa: Jokowi: Indonesia Bantu Wujudkan Visi 2030 Arab Saudi.” Liputan 6. 1 Maret. Diakses Desember 21, 2017. http://news.liputan6.com/read/2872760/jokowi-indonesia-bantu-wujudkan-visi-2030-arab-saudi.
Sihbudi, Riza dkk. 1995. Profil Negara-negara Timur Tengah. Jakarta: Dunia Pustaka Jaya.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking