Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia dibawah Pemerintahan Presiden Jokowi

Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia dibawah Pemerintahan Presiden Jokowi

                                                   Nabila Zulfa ( I02216022 ­)
Prodi Hubungan Internasional
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Abstrak
Pada penelitian ini mempunyai prinsip dasar kebijakan politik luar negeri adakalanya negara boleh saja berakar pada sejarah, ideologi, dan konstitusi nasional. Namun pelaksanaannya sangat dipengaruhi oleh kepentingan, kepemimpinan, dan dinamika politik internal dan internasional tertentu. Tulisan ini mencoba mencermati faktor kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam kaitannya dengan dua faktor lain di dalam pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia beberapa tahun ke depan. Walau tampak agak prediktif, bahkan spekulatif, tulisan ini sepenuhnya bersifat deskriptif dengan menentukan argumentasi teoritis dan informasi yang tersedia. Subjektivitas penulis selanjutnya tidak bisa dihindarkan untuk sampai pada penegasan bahwa kebijakan politik luar negeri Indonesia di bawah pemerintahan Jokowi berbeda dari pemerintahan sebelumnya. Dibawah pemerintahan Jokowi, Indonesia akan lebih berorientasi ke dalam (inward-looking) yang antara lain disebabkan oleh tekanan politik domestik.
Kata kunci : Kebijakan politik luar Negeri, kebijakan berorientasi, Politik domestik.

Abstract
In this study have the basic principles of foreign policy policy sometimes the state may be rooted in the history, ideology, and national constitution. But its implementation is strongly influenced by the interests, leadership, and certain internal and international political dynamics. This paper seeks to examine the leadership of President Joko Widodo (Jokowi) in relation to two other factors in the implementation of Indonesia's foreign policy in the next few years. Although it seems somewhat predictive, even speculative, it is entirely descriptive by determining the theoretical arguments and information available. Subsequent writer subjectivity is inevitable to arrive at the assertion that Indonesia's foreign policy under Jokowi's government is different from the previous administration. Under Jokowi's administration, Indonesia will be more inward-looking, which is partly due to domestic political pressure.
Keyword : Foreign Policy, Foreign Orentation, Domestic Politic.



Kebijakan luar negeri Jokowi yang berorientasi ke dalam (Inward-looking)
Setidaknya terdapat empat argumen yang dimajukan untuk mengatakan kecenderungan inward looking dari kebijakan luar negeri presiden terpilih Joko Widodo.
1.       Prinsip dan Tujuan Konstitusional Politik Luar Negeri
Ada argumentasi yang memungkinkan sekaligus membenarkan kebijakan luar negeri Jokowi yang inward looking adalah prinsip politik luar negeri yang dianut selama ini, yakni prinsip bebas aktif. Prinsip ini membuka ruang bebas bagi interpretasi dan pemaknaan oleh siapapun dan dalam kondisi apapun. Ini dapat dilihat dalam rumusan visi dan misi hubungan luar negeri Jokowi-JK, yakni “terwujudnya Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong”. Visi ini mempertegas makna kebebasan Indonesia dengan cara mewujudkan kedaulatan, kemandirian, dan kepribadian nasional. Di dalamnya juga termasuk sikap dan sifat aktif untuk dapat merealisasikan kemandirian nasional atas landasan kerjasama positif dan konstruktif yakni gotong-royong. Prinsip “bebas aktif” dari politik luar negeri Indonesia selalu bermakna ganda. Pertama, bahwa politik luar negeri Indonesia bertujuan untuk memelihara identitas nasional. Salah satu pertanyaan kritis dalam konteks ini, sebagaimana diutarakan oleh Ubaedillah dan Abdul Mangadar Situmorang, Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia di bawah Pemerintahan Jokowi-JK, adalah “benarkah ungkapan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan agamis. Benarkah ungkapan ini masih menjadi ciri khas bangsa Indonesia saat ini?”. Refleksi yang dilakukan mengatakan, “Mencermati kenyataan sehari-hari, julukan ini tidak selamanya tepat. Tingginya kasus korupsi dan maraknya tindakan kekerasan yang dilakukan masyarakat dan negara merupakan kenyataan yang jauh dari julukan luhur makmur nya Indonesia sebagai masyarakat yang ramah dan agamis”. Disamping fenomena negatif tersebut, prinsip tersebut juga hendak menegaskan identitas nasional yang majemuk dan toleran. Dengan kata lain, sekalipun karakteristik global bersifat pluralis terdapat kecenderungan ke arah universalisasi dan uniformitas nilai-nilai global. Dengan mencermati evolusi nasionalisme Indonesia dari periode revolusi kemerdekaan hingga saat ini, Ubaedillah dan Abdul Rozak berpendapat bahwa saat ini yang berkembang di Indonesia adalah nasionalisme kosmopolitan. Dikatakan, dengan bergabungnya Indonesia dalam sistem internasional, nasionalisme Indonesia yang dibangun adalah nasionalisme kosmopolitan yang menandaskan Indonesia sebagai bangsa tidak dapat menghindari bangsa lain, namun tetap memiliki nasionalisme kultural ke  Indonesia.
Makna kedua dari prinsip bebas aktif adalah bahwa politik luar negeri ditujukan pula untuk mewujudkan cita-cita nasional sebagaimana dicantumkan di dalam pembukaan UUD 1945, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa, meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan ikut serta menjaga perdamaian dan ketertiban dunia. Sekalipun tujuan yang terakhir dapat dilihat sebagai tujuan yang bersifat eksternal, politik luar negeri juga dimaksudkan untuk mendukung pencapaian dua cita-cita pertama yang lebih bersifat internal. Sebab, sebagaimana disadari bahwa hanya dengan melalui peningkatan kemakmuran nasional maka peran serta dalam pemeliharan perdamaian dunia dapat dilaksanakan. Dan lebih dari itu, dengan keterpenuhan seluruh cita-cita tersebut maka tujuan kemerdekaan menjadi bermakna dan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia akan damai.
Atas dasar prinsip politik luar negeri yang bebas aktif dan amanat konstitusi, maka dapat pula dikatakan misi atau tujuan kebijakan luar negeri Jokowi-JK yang selaras. Tujuan tersebut adalah:
1.       Mengedepankan identitas sebagai negara kepulauan dalam pelaksanaan diplomasi dan membangun kerjasama internasional;
2.      Meningkatkan peran global melalui diplomasi middle power yang menempatkan Indonesia sebagai kekuatan regional dan kekuatan global secara selektif dengan memberikan prioritas kepada permasalahan yang secara langsung berkaitan dengan kepentingan bangsa dan negara Indonesia;
3.      Memperluas keterlibatan regional di Indo pasifik, dan;
4.      Merumuskan dan melaksanakan politik luar negeri yang melibatkan peran, aspirasi dan keterlibatan masyarakat. Demikian pula dengan empat prioritas yang ditawarkan oleh presiden terpilih Jokowo, yakni :
(1)   Perlindungan WNI, termasuk TKI di luar negeri.
(2)  Perlindungan sumber daya alam dan pe rdagangan.
(3)  Produktivitas perekonomian.
(4)  Pertahanan keamanan nasional, regional serta perdamaian dunia. Sementara Jokowi menaruh perhatian khusus pada komitmen pemberian dukungan bagi kemerdekaan dan keanggotaan Palestina di PBB, Jokowi juga mengedepankan diplomasi total di dalam menyelesaikan potensi sengketa dengan negara-negara lain. Prioritas program di atas, sekalipun masih bersifat normatif bisa dilihat dari prioritas yang  menunjukkan kecenderungan inward looking.

Konsentrasi Politik Internasional dan regional
Pada dasarnya dinamika Politik Internasional yang diwarisi oleh Presiden Joko Widodo tidak berbeda dari masa pemerintahan Presiden Susilo B. Yudhoyono. Ini menjadi argumentasi kedua mengapa Jokowi akan cenderung mengutamakan penguatan nasional. Kekuatan-kekuatan internasional masih akan tetap berada di tangan AS, Uni Eropa, bersama dengan organisasi-organisasi Internasional seperti PBB, UE/NATO, IMF/WB, WTO dll. Lembaga-lembaga semacam ini tetap tidak terpisahkan dari AS dan UE karena menjadi instrumen penting bagi legitimasi maupun penguatan dan perluasan peran negara-negara besar tersebut. Perkembangan kekuatan Cina dan kemunduran relatif kekuatan Jepang memiliki kekuatan yang dapat ditampilkan oleh Rusia telah menjadi bagian dari dinamika politik Internasional dalam satu dasawarsa terakhir. Ketegangan dan persaingan di antara mereka mempertegas multipolarisme kekuatan-kekuatan dunia. Hal itu disemarakkan pula oleh kekuatan-kekuatan middle power lainnya seperti India dan Brazil. Kekuatan revisionis dengan arsenal nuklir dan ideology. Seperti Korea Utara dan Iran kerap pula meningkatkan ketegangan global dan memaksa pergeseran isu dan agenda internasional. Kemunculan gerakan-gerakan kritis ekstrim radikal berupa terorisme internasional juga menambah ketegangan tertentu yang tidak saja mengganggu ketertiban dunia, tetapi juga mengancam struktur global yang dibangun di atas negara (state system) dan didominasi oleh negara-negara besar. Selain isu politik keamanan, agenda utama global tetaplah pada perekonomian. Sekalipun ketegangan politik di atas mempengaruhi kinerja ekonomi internasional, forum internasional masih tetap di dominasi oleh persoalan ekonomi, baik itu dalam rangka meningkatkan kerjasama untuk memproduksi lebih banyak keuntungan dan kebaikan bersama, maupun dalam rangka mengatasi kemunduran yang mungkin terjadi, termasuk menyelesaikan sengketa ekonomi, investasi, dan perdagangan seperti halnya Euro crisis. Orientasi Kebijakan Politik Luar Negeri Indonesia di bawah Pemerintahan Jokowi-JK, sekalipun kerjasama ekonomi dan saling ketergantungan terus berlanjut.

Dinamika politik dalam negeri
Argumentasi yang ketiga mendorong dan sekaligus membenarkan kebijakan luar negeri Presiden Jokowi condong inward-looking dan low-profile adalah dinamika politik dalam negeri. Kemenangan Jokowi-JK dalam pilpres bukan kesulitan atau perlawanan. Dengan memenangkan hanya 52 persen suara dan perbedaan sekitar 7 juta suara, kemenangan tersebut telah membuka ruang bagi pasangan Prabowo-Hatta untuk melakukan tuntutan hukum agar Mahkamah Konstitusi (MK) membatalkan kemenangan Jokowi-JK. Keputusan MK yang mengukuhkan kemenangan Jokowi-JK sebagaimana sebelumnya telah ditetapkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada 21 Juli 2014 tidak menyurutkan koalisi merahputih pendukung Prabowo-Hatta untuk memberikan “kesulitan-kesulitan” bagi pemerintahan Jokowi-JK dalam lima tahun kedepan. Hal ini antara lain dimungkinkan mengingat mayoritas anggota DPR merupakan pendukung Koalisi Merah-Putih (KMP) dan menjadi penyeimbang, jika bukan menjadi oposisi, terhadap Koalisi Indonesia Hebat (KIH) yang merupakan pendukung Jokowi-JK.

Idiosinkretisme Jokowi
Prinsip yang keempat yaitu prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif dan tujuan konstitusional Negara Indonesia selain membuka ruang pada interpretasi dan perumusan prioritas sebagaimana dibahas sebelumnya, juga membuka ruang terhadap berbagai model pengambilan keputusan. Rational Actor Model (RAM) misalnya mengandaikan bahwa setiap pemerintah atau pembuat keputusan politik luar negeri melakukan analisis yang mendalam dan menyeluruh terhadap berbagai informasi, fakta, dan peristiwa yang terjadi. Keputusan dan kebijakan negara-negara lain pun dicermati dan dikaji. Hasil kajian yang terkerangka melalui cost-and-benefit analysis yang bermuara pada pengambilan kebijakan yang lebih menguntungkan. Dalam sejumlah kasus, tidak ada keraguan bahwa pemerintahan sebelumnya menerapkan model ini. Paling tidak secara politis atau ideologis, pemerintah pasti berdalih bahwa setiap kebijakan luar negeri yang diambil telah dipertimbangkan secara seksama dan ditujukan semata-mata bagi kepentingan nasional. Salah satu kesulitan dan sekaligus persoalan atau kelemahan “model aktor rasional” adalah keharusan untuk mengetahui semua aspek-aspek yang terkait dengan tujuan, perhitungan, pilihan-pilihan, konsekuensi yang terkait dengan proses, hasil, dan akibat dari pengambilan keputusan kebijakan luar negeri baik dari sisi internal maupun eksternal.

Kesimpulan
Secara konseptual dan normatif visi misi kebijakan luar negeri Jokowi JK tetap sejalan dengan prinsip bebas aktif dan tujuan konstitusional politik luar negeri Indonesia. Namun demikian, patut dicermati bahwa terdapat ketidaksesuaian antara visi misi dengan prioritas program untuk beberapa bidang. Misalnya antara identitas kepulauan dan perlindungan WNI atau dukungan terhadap Palestina. Demikian juga halnya relevansi status middle power dan mandala Indo-Pasifik dengan potensi ancaman/tantangan terhadap keamanan dan perdamaian dunia yang secara geografis berada di Afrika, Timur Tengah dan Eropa Timur. Walaupun terdapat pula ancaman keamanan dan stabilitas di Asia Timur, contohnya Laut Cina Selatan.

Referensi

Allison, 1969, Conceptual models and the Cuban Missile Crisis.American Political Science hal 63: 689-718.

Allison, Graham and Philip Zelikow, 1999, Essence of Decision: Explaining the Cuban nd Missile Crisis, 2 ed, Longmann.


Kalfe, Tulasi R Making a Difference: Allison's Three Models of Foreign Policy Analysis dalam http://www.academia.edu/592889/Making_a_Difference_Allisons_Three_Models_of_Foreign_Policy_Analysis




Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking