NASIB PERTANIAN INDONESIA : KEBIJAKAN IMPOR BERAS KE VIETNAM
Khusairi Ramadhan
Program Studi Hubungan Internasional,
Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya
Beras
merupakan hal yang tidak dapat lepas dari warga Indonesia. Tulisan ini dilatarbelakangi
oleh meningkatnya impor beras dari negara-negara tetangga seperti Vietnam. Bertumbuhnya
penduduk berdampak pada jumlah konsumsi beras yang dibutuhkan. Hal ini membuat Impor
menjadi problem solving disaat kebutuhan beras di dalam negeri belum tercukupi.
Impor sendiri menghasilkan suatu kebijakan yang mengakibatkan pro dan kontra. Apabila
pemerintah tidak mengimpor beras, Indonesia akan kekurangan cadangan beras
nasional dan dapat memicu timbulnya krisis pangan yang dampaknya dapat
mengguncang stabilitas politik atau ekonomi Indonesia. Tetapi disisi lain,
impor yang dilakukan oleh pemerintah tersebut berdampak terhadap para petani
Indonesia. Aktor yang terlibat adalah Pemerintah dan para petani. Tujuan dari
penulisan ini adalah untuk mengetahui dampak dari impor beras bagi Indonesia.
Kata Kunci : Impor, Beras, Ketahanan
Pangan, Krisis Pangan, Pertanian
Rice
is a thing that can not be separated from the citizens of Indonesia. This paper
is motivated by the increase of rice import from neighboring countries such as
Vietnam. Growing population has an impact on the amount of rice consumption
needed. This makes imports into problem solving when domestic demand for rice
has not been fulfilled. Import itself produces a policy that leads to pro and
contra. If the government does not import rice, Indonesia will be short of
national rice reserves and could trigger a food crisis that could impact
Indonesia’s political and economic stability. But on the other hand, the
imports carried out bby the government have an impact on Indonesian farmers.
The actors involved are government and farmers. The purpose of this paper is to
know the continuation and impact of rice imports for Indonesia.
Keywords : Import, Rice, Food
Security, Food Crisis, Farmer.
Pendahuluan
Bagi
Indonesia, makanan pokok sumber karbohidrat yang sering dimakan adalah beras.
Ada juga sebagian penduduk Indonesia yang mengkonsumsi pangan non beras sebagai
makanan pokoknya seperti jagung, singkong, sagu dan lain-lainnya. Menurut
Bustanul Arifin memberikan batasan mengenai pangan yaitu “pangan khususnya
beras disamping sebagai bahan pemenuhan kebutuhan makan, juga mempunya arti
ekonomis yang penting dan strategis, bahkan dapat bersifat politis”.[1]
Beras memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat Indonesia bisa
dilihat dari aspek ekonomi, tenaga kerja, lingkungan hidup, sosial, budaya dan
politik. Beras mempunyai peran startegis dalam memantapkan ketahanan pangan, ketahanan
ekonomi, dan ketahanan atau stabilitas politik nasional.
Sejumlah
karakteristik yang membuat beras itu unik diantaranya adalah pertama, menurut
perkiraan sekitar 90% dari total produksi dan konsumsi beras di dunia dilakukan
di Asia. Hal ini berbeda dengan jenis-jenis komoditi pertanian lainnya, seperti
gandum, kedelai dan jagung, yang diproduksi oleh banyak negara di dunia. Kedua,
pasar bebas sangat tipis, tidak lebih dari total produksi, dibandingkan dengan
misalnya jagung, kedelai dan gandum yang masing-masing mencapai 15%, 30%, dan
25% dari total produksi. Ketiga, harga beras sangat tidak stabil jika
dibandingkan misalnya gandum. Data mengenai perdagangan beras dunia untuk
periode 1954-1994 menunjukkan bahwa harga beras tertinggi pernah mencapai
sekitar US$600 per ton dan terendah sekitar US$200 per ton. Keempat, struktur
pasar dunia sekitar 80% dari total perdagangan beras dunia dikuasai oleh enam
Negara yakni, Thailand, Vietnam, Pakistan, china, Myanmar, dan AS. Kelima,
belakangan ini Indonesia merupakan importer terbesar. Keenam, di sebagian besar
Negara di Asia (termasuk Indonesia), umumnya besar diberlakukan sebagai barang
upah dan barang politik.
Kondisi Pertanian Indonesia
Indonesia
sebagai negara agraris seharusnya memiliki potensi pertanian yang besar namun
pada kenyataannya sampai saat ini sebagian besar dari petani kita masih banyak
yang termasuk golongan miskin. Hal ini mengindikasikan bahwa pemerintah pada
masa lalu bukan saja kurang memberdayakan petani tetapi juga terhadap sektor
pertanian keseluruhan. Pembangunan pertanian pada masa lalu mempunyai beberapa
kelemahan, yakni hanya terfokus pada usaha tani. Selain itu, masih ditambah
lagi dengan permasalahan-permasalahan yang menghambat pembangunan pertanian di
Indonesia seperti pembaruan agrarian (konversi lahan pertanian menjadi lahan
industri) yang semakin tidak terkendali lagi, kurangnya penyediaan benih
bermutu bagi petani, kelangkaan pupuk pada saat musim tanam datang, swasembada
beras yang tidak meningkatkan kesejahteraan petani. [2]
Persediaan
beras sebagai bahan pangan pokok sebagian besar penduduk Indonesia adalah salah
satu bagian yang penting dalam pemantapan ketahanan pangan nasional. Kelangkaan
beras tidak hanya berakibat pada gangguan stabilitas ekonomi tetapi juga, dapat
memicu ketidakstabilan sosial dan politik. Penyediaan beras ditingkat regional
maupun nasional terdapat tiga komponen yaitu: produksi, cadangan dan penyediaan
luar negeri (impor).
Sejarah Impor Beras
Campur
tangan pemerintah dalam komoditas beras diawali sejak Maret 1933 yaitu di zaman
pemerintahan Belanda. Saat itu, untuk pertama kalinya pemerintah Belanda
mengatur kebijakan perberasan, yaitu dengan cara menghapus impor beras secara
bebas serta membatasi impor secara lisensi. Beras mempunyai sejarah yang sangat
panjang dalam percaturan ekonomi politik Indonesia. Hal ini disebabkan
keberadaanya sebagai makanan pokok bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia.
Untuk hal itu lah campur tangan dari pemerintah untuk menjamin keberadaan beras
dengan harga yang terjangkau selalu dilakukan, termasuk oleh pemerintahan
kolonial Belanda saat itu.[3]
Pemerintah
kolonial Belanda mengintervensi kecukupan pasokan beras dengan harga terjangkau
terhadap komoditi ini melalui berbagai cara, termasuk dengan pembangunan
infrastruktur dan investasi teknologi pertanian dalam hal ini produksi.
Sementara dalam sisi stabilitas harga, pemerintah kolonial juga dari waktu ke
waktu membuka impor bila dibutuhkan dan mengirimnya dari pulau ke pulau atau
daerah yang membutuhkan, serta mendirikan suatu lembaga pangan. Tanggal 25
April 1939, lahirlah suatu lembaga pangan yang disebut Voeding Middelen Fonds
(VMF). Lembaga ini berperan dalam menstabilkan harga beras, yang merupakan
cikal bakal dari Bulog.
Pada
awal pemerintahan rezim Orde Baru, membuka bantuan luar negri untuk impor beras.
Sepanjang tahun 1970 sampai dengan 1980-an, investasi besar-besaran pada
infrastruktur pertanian, pengembangan benih unggul, pestisida dan subsidi pada pupuk
petani. Pembangunan infrastruktur pertanian dan pengembangan teknik-teknik pertanian,
serta subsidi pada petani ini kemudian dikenal sebagai the green revolution. Pada
puncaknya pada tahun 1984 Indonesia berhasil surplus dari produksi beras, atau
yang dikenal dengan swasembada pangan. Impor beras yang dilakukan oleh pemerintah
yaitu berasal dari Vietnam dimana impor yang dilakukan oleh Indonesia dari
Vietnam telah terjalin dalam suatu nota kesepatakan MoU yang telah disetujui
oleh kedua belah pihak Negara baik itu Indonesia maupun Vietnam.
Kebiajakan Impor Beras Vietnam
Kebutuhan
beras bagi masyarakat Indonesia setiap tahunya selalu bertambah dikarenakan
bertambahnya jumlah penduduk Indonesia setiap tahun, yang mengakibatkan
kebutuhan makanan bertambah setiap tahunya. Permasalahan yang terjadi di
Indonesia terdiri dari dua bentuk yaitu, permasalahan secara berkala dan
kronis. Permasalahan secara berkala terjadi karena misalnya ada bencana alam,
konflik sosial dan fluktuasi harga. Sedangkan permasalahan kronis terbatasnya
akses terahadap ketersedian pangan disertai harga pangan yang melambung tinggi.
Dengan
adanya permasalahan seperti itu, stok beras nasional harus tercukupi agar
ketahanan pangan dapat terjaga. Salah satu bentuk untuk memperkuat ketahanan
pangan Indonesia dengan adanya permasalahan seperti itu, Indonesia melakukan
kerjasama dengan Vietnam. Kerjasama yang dilakukan dengan Vietnam tersebut
dituangkan dalam suatu Memorandum on Rice Trade yang disepakati pada tanggal 5
April 2007 untuk masa kerja sama sampai dengan 31 Desember 2009. MoU on Rice
Trade ini kemudian diperpanjang pada tahun 2009 untuk jangka waktu 2010-2012.[4]
MoU
on Rice Trade yang ditandatangani oleh Menteri Perdagangan masing-masing pihak
tersebut bertujuan untuk menjamin suplai kebutuhan beras dalam negeri sampai 1
juta ton apabila dibutuhkan sebagai antisipasi apabila terjadi kekurangan
pasokan beras dalam negeri. Rencana yang dilakukan pemerintah dalam melakuakan
kerjasama antara Indonesia dengan Vietnam dalam impor beras ini yaitu sebagai
pemenuhan atau cadangan stok beras nasional apabila Indonesia mengalami
kekurangan stok beras nasional agar terciptanya ketahanan pangan yang kuat agar
tidak terjadi krisis pangan di Indonesia.
Menurut
pemerintah, kebijakan impor beras bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan stok
beras secara nasional saja, tetapi juga tidak mempengaruhi tingkat
kesejahteraan petani yang masih rendah. Kebijakan untuk mengimpor beras
produksi luar negri sekarang ini hendaknya disertai dengan perbaikan kebijakan
beras nasional yang berpihak dan melindungi petani. Beras impor yang masuk ke
Indonesia tidak diperbolehkan masuk ke daerah yang mengalami surplus. Beras
impor yang masuk ke Indonesia itu diorientasikan untuk memenuhi bagi daerah
yang mengalami kekurangan stok beras seperti di daerah Papua, Nusa Tenggara
Timur, Jambi, Bengkulu dan lain-lain.
Faktor Pendorong impor Beras
Tabel
1 Perkembangan konsumsi beras per kapita, produksi, ekspor dan impor
beras
di Indonesia
|
Tahun
|
Produksi
(ton)
|
Impor
(ton)
|
Ekspor
(ton)
|
Konsumsi
(Kg/Kapita/Year)
|
|
2000
|
51 898 852
|
1 500 000
|
119 000
|
126.80
|
|
2001
|
50 460 782
|
3 500 000
|
395 000
|
125.10
|
|
2002
|
51 498 694
|
2 750 000
|
415 000
|
125.10
|
|
2003
|
52 137 604
|
650 000
|
70 000
|
124.50
|
|
2004
|
54 088 568
|
500 000
|
91 000
|
124.00
|
|
2005
|
54 151 097
|
539 000
|
422 900
|
123.60
|
|
2006
|
54 454 937
|
2 000 000
|
94 000
|
124.90
|
|
2007
|
57 157 435
|
350 000
|
119 000
|
126.00
|
|
2008
|
60 352 925
|
250 000
|
187 000
|
126.70
|
|
2009
|
64 398 890
|
1 150 000
|
240 000
|
127.40
|
|
2010
|
66 469 394
|
3 098 000
|
35 000
|
127.50
|
Sumber : Kementrian Pertanian 2013
Dari
data yang dikeluarkan Kementrian Pertanian menyebutkan bahwa, jumlah beras
impor yang masuk ke Indonesia mencapai 1,5 juta ton. Kalangan eksportir beras
diluar negeri tidak menginginkan pertumbuhan industri pertanian berkembang
pesat di Indonesia. Karena jika pertanian Indonesia berkembang pesat dan
didukung oleh kebijakan yang tepat, maka peluang masuknya beras impor akan
semakin sulit.
Impor
beras dilakukan untuk memperkuat cadangan beras nasional, cadangan beras yang
cukup diperlukan untuk mewujudkan ketahanan pangan dalam rangka memenuhi hak
masyarakat atas pangan. Memperkuat cadangan beras nasional melalui impor yang dilaksanakan
secara rutin setiap tahunnya mengindikasikan bahwa Indonesia sudah tidak lagi
berswasembada beras.
Ketahanan
pangan yang di wujudkan melalui impor beras menghasilkan suatu kebijakan yang
mengakibatkan pro dan kontra. Apabila pemerintah tidak mengimpor beras, Indonesia
akan kekurangan cadangan beras nasional dan dapat memicu timbulnya krisis pangan
yang dampaknya dapat mengguncang stabilitas politik atau ekonomi Indonesia.
Tetapi disisi lain, impor yang dilakukan oleh pemerintah tersebut berdampak
terhadap para petani Indonesia.
Daftar Pustaka
http://www.kompas.com,
“Kondisi pertanian Indonesia”, dalam
http://paskomnas.com/id/berita/Kondisi-
Pertanian-Indonesia-saat-ini-.php.,
“Sejarah
Bulog, Sebelum Menjadi Perum”, dalam http://bulog.co.id/old_website/sejarah.php.,
“Krisis Pangan Dan Solidaritas”, dalam http://zainurihanif.com/2008/06/21/krisispangan-dan-solidaritas/#more-236.,
diakses
Maisyarah,
Suci. 2013. “ANALISIS IMPOR BERAS VIETNAM TERHADAP
CADANGAN BERAS NASIONAL”.
[2] “Kondisi pertanian Indonesia”, dalam
http://paskomnas.com/id/berita/Kondisi-
Pertanian-Indonesia-saat-ini-.php.,
diakses 10 February 2012
[3] “Sejarah Bulog, Sebelum Menjadi Perum”, dalam http://bulog.co.id/old_website/sejarah.php.,
diakses 14 February 2012
[4] “Krisis Pangan Dan Solidaritas”, dalam
http://zainurihanif.com/2008/06/21/krisispangan-
dan-solidaritas/#more-236., diakses
16 February 2012
Komentar
Posting Komentar