Kebijakan politik luar negeri Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kasus misil rudal di Kuba

Kebijakan politik luar negeri  Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kasus misil rudal di Kuba

                                                          Suci Millati Qurrota ayuni
                                                                       I72216076
                                                    Universitas Sunan Ampel Surabaya

Abstrak
Secara umum, krisis misil Kuba adalah konfrontasi antara Amerika Serikat, Uni Soviet, dan Kuba yang hampir menyebabkan perang nuklir. Amerika Serikat sendiri takut dengan adanya misil rudal yang diletakkan Uni Soviet di Kuba, dan Uni Soviet sendiri tidak mau melepaskan kesempatan menaruh rudal misil di Kuba yang jaraknya hanya beberapa mil dari daratan Amerika Serikat. Krisis misil ini sendiri tidak berlanjut menjadi perang nuklir karena ada diplomasi dan perjanjian antara John F. Kennedy (Presiden Amerika Serikat saat itu) dan Nikita Kruschev (perdana menteri Uni Soviet saat itu).  
Kata kunci : Rudal di Kuba, Kebijakan Poliik Luar Negeri, Rasional Choice, Peaceful Coexsistance, Diplomasi
Abstract
In general, the Cuban missile crisis is a confrontation between the United States, the Soviet Union, and Cuba that almost led to nuclear war. The United States itself was frightened by missiles that the Soviets put in Cuba, and the Soviet Union itself did not want to let go of missile in Cuba just a few miles from the mainland of the United States. This missile crisis itself does not continue to be a nuclear war because there is diplomacy and agreement between John F. Kennedy (President of the United States at the time) and Nikita Kruschev (then Soviet prime minister).
 
Key words: Missile in Cuba, Foreign Policy Policies, Rational Choice, Peaceful Coexsistance, Diplomacy

Pendahuluan
Krisis misil Kuba yang terjadi pada tahun 1962 merupakan suatu peristiwa yang menegangkan antara Amerika serikat dan Uni Soviet didalam dinamika politik internasional. Apabila konflik ini benar-benar terwujud,maka peristiwa ini akan membawa dunia pada perang nuklir. Sebagai aktor individu dibalik semua kebijakan yang ada dalam kasus tersebut peran Nikita Kruschev dan John F Kennedy memang tampak menonjol , khususnya pertemuan diantara keduanya dalam merumuskan perjanjian yang berakhir dengan win-win solution ( William,1992).
Perseteruan Amerika Serikat dan Uni Soviet dalam kasus ini berawal ketika  Amerika Serikat menginvasi Kuba di teluk babi. Uni soviet yang mengetahui  bahwa Amerika Serikat ada dibalik layar pada peristiwa invasi diteluk babi tersebut kemudian marah besar karena kuba merupakan sekutunya sesama komunis. Akhirnya Uni Soviet menanggapi hal tersebut dengan menempatkan rudal-rudal di Kuba. Kemudian Amerika Serikat mendapatkan bukti-bukti berupa foto mengenai pemasangan di Kuba. Amerika Serikat tidak tinggal diam dengan hal tersebut. Setelah melakulan perundingan, presiden Kennedy memutuskan untuk memblokade laut yang bertujuan untuk menghentikan pengiriman material dari Uni soviet yang digunakan untuk membangun instalasi di Kuba kennedy juga mengirimkan surat kepada kruschev yang berisi bahwa Amerika Serikat tidak mengijinkan adanya pengiriman senjata-senjata ke Kuba. Akhirnya pada tanggal 28 oktober 1962, konfrontasi ini mereda setelah uni Soviet bersedia memindahkan nuklirnya dengan syarat Amerika Serikat tidak akan mengganggu kuba lagi. Oleh karena itu, dalam paper ini kami akan membahas mengenai sejarah krisis rudal di Kuba, analisis rasional choice dari John F Kennedy, analisis personality theory dan diplomasinya sebagai solusi akhir.

Sejarah Krisis Rudal di kuba
Krisis rudal di kuba merupakan suatu hubungan buruk antara Amerika Serikat dan Kuba pasca revolusi yang dilakukan oleh Fidel Castro. Saat itu Fidel Castro melakukan kudeta sehingga menggulingkan presiden Kuba yang didukung Amerika Serikat, yaitu Fulgencio Batista. Amerika Serikat sempat melakukan dua operasi rahasia dan embargo ekonomi untuk menjatuhkan Fidel castro. Hingga pada tahun 1961 dijalankanlah operasi margosee namun operasi tersebut gagal.
Selanjutnya pada tahun 1962 Amerika Serikat menggunakan kekuatan militer apabila kepentingan Amerika Serikat di Kuba terancam. Dengan keadaan tersebut, Uni Soviet memberikan bantuan kepada Kuba karena Kuba merupakan Sekutunya dengan paham Komunis. Dimana bantuan ini berkaitan dengan kebijakan Uni Soviet membantu Negara dunia ketiga yang baru merdeka. Melihat bantuan ini akhirnya Kuba berpihak kepada Uni Soviet. Sebagai respon terhadap embargo ekonomi, dan adanya serangan dari Amerika Serikat ke Kuba ,serta kerugian bagi Uni Soviet jika Kuba diambil alih oleh Amerika Serikat. Akhirnya uni Soviet dan Kuba menempatkan rudal secara rahasia pada tanggal 8 September 1962, selanjutnya di kirim kembali pada tanggal 16 september 1962 ke dua kalinya. Uni soviet membangun pangkalan sebanyak 9 rudal yang mempunyai jangkauan 4000 kilometer. Pembangunan pangkalan rudal ini tidak diketahui Amerika Serikat sampai 14 oktober 1962, dengan mennggunakan pesawat pengintai U-2 Amerika Serikat akhirnya mengetahui operasi rahasia rudal tersebut. Setelah mendapatkan fakta itu, Amerika Serikat dalam Executive Committee of the Nation Security Council (EXCOMM) mempunyai lima pilihan untuk merespon, yaitu diam saja, memakai diplomasi untuk menekan Uni Soviet, memakai serangan udara, serangan militer secara total, dan blockade terhadap Kuba. Pada akhirnya , Amerika Serikat merespon dengan menyiapkan tentaranya melakukan blokade khususnya senjata terhadap Kuba dengan sigap.
(Engkongyudo;2012;Krisis Misil Kuba; https://engkongyudo.wordpress.com/2012/02/02/krisis-misil-kuba-1962-main-part diakses pada tanggal 2 februari 2012)

Tabel 1
Lokasi pasukan amerika Serikat dan Uni Soviet

Negara                                     Jumlah yang diperkirakan                   Kawasan Geografis
Uni Soviet                                                       253.000                                   Eropa Timur
                                                                            3.000                                   Kuba
Amerika Serikat                                              352.000                                   Eropa dan laut tengah
                                                                           23.000                                  Karibia

Sumber: The military Balance(London: Institute for strategic studies, 1968), halaman 5-9, dan “where 1,5 million Americans are fighting-or standing Guard,” Us News and World Report ( Januari, 1968).20-21
 Akhirnya, pada tanggal 22 oktober 1962 tepat jam 7 malam, Kennedy mengumumkan kedaan yang genting tersebut melalui telepon dan radio. Selanjutnya diplomasi antara Amerika dan Uni Soviet pun di langsungkan.
Pada tanggal 23 oktober 1962 jam 11.30 malam Amerika Serikat menawarkan untuk mencabut rudalnya di Turki dengan ketentuan Uni Soviet juga mencabut rudalnya di Kuba. Pada tanggal 23 oktober 1962 jam 1.45 pagi. Kennedy merespon telegram kruschev ,menyatakan bahwa blokade dilakukan Amerika Serikat karena terancam dengan rudal yang ada di Kuba dan meminta Uni Soviet membongkar rudal di Kuba. Selanjutnya pada tanggal 25 oktober 1962 jam 7.15 pagi, dua kapal laut Amerika Serikat ,USS Essex dan USS Gearing, memeriksa kapal Bulcharest dari Uni Soviet. Tapi pemeriksaan berhasil karena tidak ada barang miter didalamnya. Jam 5 sore amerika Serikat mengumumkan bahwa rudal di Kuba mulai aktif. Krisis tetap berlanjut hingga pada 27 oktober 1962 jam 6 pagi, CIA menyatakan bahwa 6 rudal di Kuba sudah aktif dan siap diioperasikan.
 Akhirnya pada tanggal 28 oktober 1962, pertemuan dilakukan oleh Kennedy dan Kruschev. Mereka bertemu di Yenching Palace Chinese Restaurant di Washington D.C. Kennedy menyatakan bahwa ia menerima keinginan Kruschev, yaitu mencabut rudalnya di Turki sementara Kruschev mencabut nuklirnya di Kuba. Hingga akhirnya Uni Soviet mencabut rudalnya di Kuba atas pengawasan PBB, mencabut semua blokade, dan berjanji bahwa Kuba tidak akan mendapatkan serangan. Pada akhirnya mereka sama-sama mencabut rudalnya masing-masing, yaitu di Kuba dan Turki.

Analisis rational choice
John F Kennedy merupakan presiden Amerika Serikat sebagai aktor utama dalam pengambilan keputusan di pihak Amerika Serikat. Meskipun dia tidak sendiri dalam merumuskan kebijakan luar negrinya, ia tetap tidak terpengaruh oleh pihak-pihak lain untuk menetapkan kebijakan terhadap Uni Soviet. Ia mengedepankan opsi-opsi yang rasional dan dapat menguntungkan kedua Negara ketimbang menetapkan kebijakan yang menguntungkan salah satu pihak.
Dalam hal ini amerika serikat tidak langsung menyerang Kuba ataupun Uni Soviet karena hal tersebut sangat mengancam keamanan dunia, namun ia lebih melakukan tindakan yang membuat Uni Soviet tertekan, yaitu dengan melakukan karantina atau blokade laut di daerah perairan Kuba dan mengepung wilayah kuba. Dengan hal tersebut, Amerika serikat dapat megajukan opsi yang dapat menghindari kemungkinan terjadinya perang nuklir yang sangat mengerikan dan mengancam kehidupan dunia. Sikap Amerika Serikat ini dapat dipahami dari ideology yang dianut oleh amerika Serikat sendiri, yaitu liberalism yang lebih mengutamakan kerjasama ketimbang konflik antar Negara. Di samping itu, Kennedy menentukan arah kebijakan luar negri yang di lakukan Amerika Serikat dengan berhati-hati dalam mengedepankan rasionalitas ketika bertindak dan tidak mengedepankan emosi dirinya(Annisa;2012;Krisis Misil Kuba; www.academia.edu/7254024/Krisis_Misil_Kuba_Cuban_Missile_Crisis_1962;diakses pada 10 November 2012).

Analisis Personality Theory
            Nikita Khrushchev  seorang pemimpin komunis Uni soviet setelah Joseph Stalin. Ia menjadi sekjen komunis Uni Soviet pada 1953, lalu menjadi perdana mentri Uni Soviet pada 1958 dan dua karir politiknya berakhir pada tahun 1964. Khusruchev menggunakan kebijakan politik luar negerinya yaitu : peaceful coexistence dengan kapitalis Barat. (Gibney,2011). Hal ini menunjukkan niat Khruschev agar Uni Soviet dan Amerika Serikat serta sekutunya hidup berdampingan dengan damai. Dalam hal ini Khruschev membuat Amerika Serikat tidak mempunyai pilihan, antara melepaskan Kuba atau melakukan tidakan illegal untuk menyulutkan perang. Khruschev mempertegas bahwa dirinya dan Kuba siap dengan segala pilihan yang diambil Amerika Serikat. Penggunaan teori kepribadian personal pemimpin sangat dipengaruhi oleh idiologi yang dianut oleh pemimpin. Jika menggunakan teori situasi, Khruschev sedang menghadapi situasi terjepit yaitu dia terancam diserang oleh Amerika Serikat. Namun tindakan atau respon Khruschev yang cenderung berani berasal dari kepribadian Khruschev sebagai seorang dengan ideology komunis.
(Dyah;2015;Analisis Kebijakan Luar Negeri; dyahnugraheni-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-135349-Perbandingan%20Politik;diakses pada 25 Maret 2015)

Diplomasi sebagai solusi
Kasus misil rudal di Kuba merupakan suatu krisis yang fenomenal dan hampir membawa nuklir sebagai senjatanya. Hal ini terjadi pada amerika Serikat dan uni Soviet. Keduanya mempunyai kekuatan yang unggul. Namun mereka tidak ingin tergesa-gesa dalam mengambil tindakan. Kedua pemimpin tersebut yaitu kennedy dan khruschev sepakat untuk mengambil keputusan. Lalu keduanya sama-sama mengedepankan negoisasi dan komunikasi yang bertujuan untuk mengetahui keinginan dari masing-masing pihak. Amerika serikat dan Uni Soviet setuju untuk berdamai dan bekerjasama dalam hal ini.
Hal ini mengedepankan dialog untuk menyelesaikan perselisihan walaupun sebenarnya amerika Serikat telah menekan Uni Soviet terlebih dahulu dengan memblokade dan mengkarantina wilayaj laut di Kuba. Hal tersebut bertuuan agar Uni Soviet bersedia untuk berunding dan melakukan dialog dengan amerika Serikat unutk menyelesaikan permasalahan diantara keduanya.

Kesimpulan
            Pada dasarnya krisis misil rudal di kuba merupakan krisis yang melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet. Uni Soviet memberikan bantuan kepada sekutunya yaitu Kuba karena Amerika Serikat melakukan penyerangan terhadap Kuba. Dalam pembahasan tersebut adanya aktor yang mana berperan penting dalam melakukan kebijkasanaan dalam politik luar negerinya. John F kennedy salah seorang presiden Amerika lebih menggunakan Rasional Choice nya dalam menjalankan kebijaksanaaya. Sedangkan kruschev yaitu pemimpin uni Soviet yang berpaham komunis. Kruschev menggunakan peaceful coexsistance sebagai kebijakan politik luar negerinya. Hingga pada tanggal 28 oktober 1962 antara uni Soviet dan Amerika Serikat melakukan dipomasi dengan melakukan kerjasama secara damai dan saling menguntungkan.

Referesi
Coplin Wiliam& Marbun,M.1992”Pengantar Politik Internasional”,Bandung, Sinar Baru
Engkongyudo;2012;Krisis Misil Kuba; https://engkongyudo.wordpress.com/2012/02/02/krisis-misil-kuba-1962-main-part diakses pada tanggal 2 februari 2012
Dyah;2015;Analisis Kebijakan Luar Negeri; dyahnugraheni-fisip12.web.unair.ac.id/artikel_detail-135349-Perbandingan%20Politik;diakses pada 25 Maret 2015
Annisa;2012;Krisis Misil Kuba; www.academia.edu/7254024/Krisis_Misil_Kuba_Cuban_Missile_Crisis_1962;diakses pada 10 November 2012).





Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking