Analisis Kebijakan Politik Luar Negeri Masa Rezim Susilo Bambang Yudhoyono
Analisis Kebijakan Politik
Luar Negeri Masa Rezim Susilo Bambang Yudhoyono
Qomarul Laili
Program Studi Hubungan
Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Islam Negeri Sunan
Ampel, Surabaya
Abstrak
Tulisan ini dibuat untuk
menguak kebijakan politik luar negeri yang diberlakukan pada masa pemerintahan
presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau
bisa disebut presiden SBY. Pada masa pemerintahannya, presiden SBY berhasil
menaikkan derajat negara Indonesia dimana presiden SBY memprioritaskan
Indonesia untuk berkonstribusi dalam PBB. Tidak hanya itu, Indonesia juga
memfokuskan diri untuk ikut serta dalam forum G-20 yang sukses menaikkan
derajat Indonesia dimata dunia. Tulisan ini menggunakan teori dari William D.
Coplin . Teori ini memaparkan bahwa
pembentukan kebijakan luar negeri dipengaruhi oleh empat faktor: (1) Keamanan
Nasional, (2) Kepentingan Ekonomi, (3) Ideologis dan Historis, (4) Sarana dan
prosedur politik luar negeri. Teori ini
dapat digunakan sebagai acuan dalam peneletian mengenai kebijakan politik luar
negeri pada rezim SBY yang pada saat itu memfokuskan ASEAN sebagai batu
loncatan untuk Indonesia dalam memajukan politik luar negeri serta menggunakan
G-20 untuk mengatasi krisis financial secara global.
Kata Kunci: G-20, ASEAN,
Susilo Bambang Yudhoyono, Rezim, Krisis Finansial.
Abstract
This
article was created to unlock the political policy of a foreign country who are
put in place during the administration of President Susilo Bambang Yudhoyono or
can be called President SBY.During his reign, President SBY managed to raise
the degree of State of Indonesia wherePresident Susilo in Indonesia
toprioritize to Contribute on United Nations. Not only that, Indonesia also
focusing to participate in G-20 forum successfully raised the degree of
Indonesia in the eyes of the world. This
paper uses the theory of William D. Coplin. This theory presents that the
formation of foreign policy is affected by four factors: (1) national security,
(2) economic interests, (3) the historical and Ideological, (4) the means and
procedures of foreign politics. This theory can be used as a reference in
peneletian about foreign policy on the regime of Susilo Bambang Yudhoyono which
it focus of ASEAN as a stepping stone
for Indonesia in advancing foreign policy as well as the use of the G-20 to
address the global financial crisis.
Keyword:
G-20, ASEAN, Susilo Bambang Yudhoyono, Regime, Financial Crisis.
Pendahuluan
Negara Indonesia adalah salah satu negara
yang menjadi sorotan menarik bagi para penstudi hubungan internasional sebab
negara Indonesia memiliki berbagai isu-isu menarik yang dapat menjadi bahan kajian
dalam lingkup dunia internasional. Tidak hanya itu, negara Indonesia juga
berpotensi memiliki kerentanan untuk dijadikan sebagai objek perebutan dalam
penyebaran ideologi oleh kedua kubu besar yang masing-masing memiliki kekuatan
yang biasa dikenal sebagai Blok Barat
dan Blok Timur untuk memperkuat
salah satu kubu sebab Indonesia memiliki posisi yang dapat dikatakan
cukup strategis dimana posisi Indonesia terletak diantara dua samudra serta
diantara persilangan dua benua. Indonesia dapat di ibaratkan sebagai “Emas”
yang selalu diperebutkan , ingin dimiliki atau dikuasai oleh kedua blok
tersebut. Meski demikian, usaha kedua blok tersebut dalam mempengaruhi
Indonesia agar mengikuti ideologi mereka tidak berjalan mulus sebab Indonesia
telah memutuskan untuk tidak berpihak kepada siapapun atau memilih gerakan Non Blok serta menerapkan sistem politik internasional “Bebas Aktif”.
Meski Indonesia memilih untuk tidak
berpihak kepada blok manapun bukan berarti Indonesia tidak dapat menjalin
kerjasama dengan negara-negara anggota blok barat maupun blok timur. Dengan
sistem politik luar negeri bebas aktif Indonesia dapat berkerja sama dalam bidang
apapun terutama dalam menjaga perdamaian. Pada tahun 1957, Indonesia berperan
aktif dalam membantu menyelesaikan pertikaian yang terjadi antara negara-negara
yang mengalami konflik seperti Mesir, Vietnam, Kongo. Dengan mengirimkan
pasukan militer negara sebagai bagian dari anggota pasukan penjaga perdamaian. Namun, kesuksesan
politik internasional Indonesia tidak berlangsung lama sebab pada tanggal 21
mei 1998 kebijakan pemerintahan rezim Soeharto kala itu mengalami kehancuran
besar, dimana pada saat itu kondisi perekonomian Indonesia sangat
memprihatinkan hal ini dikarenakan dari efek krisis moneter (Inflasi) yang melanda negara-negara di
dunia. Tidak hanya itu, krisis tersebut dapat dikatakan sebagai penyebab dari
permasalahan domestik yang mencakup berbagai bidang (Ekonomi, Sosial, Politik,
Pertahanan).
Pada tahun 2004, Kondisi moneter Indonesia
berangsur membaik. Pada saat itu kebijakan pemerintahan Indonesia berada
dibawah kepemimpinan presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau biasa dikenal
dengan sebutan presiden SBY . Kepemimpinan presiden SBY pada saat itu dinilai dapat
membawa solusi dalam mengatasi berbagai permasalahan domestik akibat dari
krisis moneter yang muncul pada tahun 1997. Dilansir dari berita harian Kompasiana, memaparkan bahwa profil politik internasional Indonesia menjadi
semakin membaik dibawah pemerintahan presiden SBY. Para negara-negara besar
secara berangsur mengakui bahwa politik internasional Indonesia tidak dapat
dipandang sebelah mata.
Faktor Pembentukan kebijakan Politik Luar negeri
Politik luar
negeri Indonesia dapat berubah sesuai dengan masa pemerintahan presiden yang berubah-ubah
dari waktu ke waktu tanpa adanya indikasi yang jelas. Untuk memaparkan pola
politik luar negeri pada rezim SBY, penulis menggunakan teori William D. Coplin
yang memaparkan bahwa terdapat empat
faktor yang mempelopori perubahan kebijakan politik luar negeri, yaitu: (1)
Kondisi geografis, ekonomi, politis suatu negara dapat mempengaruhi perilaku
negara dalam dunia internasional temasuk dalam menciptakan pola kebijakan
politik luar negeri. (2) Perilaku negara dalam pengambilan keputusan yang dikeluarkan
oleh pihak eksekutif, menteri serta lembaga negara disuatu pemerintahan dimana
pengambilan keputusan oleh lembaga negara tersebut berdasarkan dari pengalaman,
pengetahuan serta kepentingan-kepentingan pemerintah yang menjadi faktor utama
dalam penentuan kebijakan luar negeri. (3) Kemampuan militer dan ekonomi.
Kekuatan militer dan ekonomi yang mumpuni dapat mempengaruhi interaksi suatu
negara dengan negara lain. (4) Kebijakan politik domestik. Kebijakan politik
domestik sangat mempengaruhi dalam pembentukan dan perumusan, sebab kebijakan
politik domestik dibentuk karena pengaruh situasi politik nasional yang dimana
situasi politik nasional akan memberikan pengaruh dalam pembentukan dan
perumusan kebijakan politik luar negeri ( Wuryandari 2008).
Dari keempat faktor yang dikemukakan oleh David D. Coplin diatas,
Faktor pertama yang mempengaruhi kebijakan politik luar negeri Indonesia.
Indonesia memiliki posisi yang strategis dalam geopolitik dan geostrategis.
Tidak hanya itu, Indonesia juga merupakan negara kepulauan terbesar didunia
yang memiliki posisi diantara jalur persilangan dua samudra dan dua benua yang
dimana jalur persilangan tersebut merupakan jalur yang dianggap penting yang
dapat mempermudah China, Jepang dan Timur Tengah dalam melancarkan kegiatan
ekspor-impor.
Saat ini, terdapat
dua situasi yang berpengaruh dalam pembentukan pola politk luar negeri
Indonesia. Pertama, berubahnya struktur
internasional yang mulanya bersifat unipolar
menjadi multipolar yang dimana perubahan struktur tersebut
menimbulkan adanya pergeseran kekuatan
misalnya seperti pertumbuhan ekonomi China yang sangat pesat dan dapat
menyokong kekuatan china hingga dapat berpotensi menyamai kekuatan Amerika
Serikat, peningkatan kekuatan teknologi Jepang yang siap bersaing dengan
teknologi Amerika Serikat, dan potensi India sebagai major power di kawasan
Asia-Pasifik. Dari empat negara yang
dijadikan contoh tersebut, China dan Amerika Serikat yang menjadi fokus sebagai
kunci dari kestabilan kawasan.
Pesatnya
pertumbuhan ekonomi di China membuat kekuatan China menjadi meningkat secara drastis bahkan Amerika Serikat merasa terancam dengan posisi China yang tidak
dapat dianggap remeh. Kekhawatiran Amerika terhadap kebangkitan China membuat
haluan kebijakan luar negeri Amerika lebih terfokus kepada kawasan Asia-Pasifik.
Hal ini dapat memicu Indonesia sebagai negara yang berada di kawasan
Asia-Pasifik untuk membuat kebijakan politik yang dapat memastikan kestabilan
dan keamanan kawasan Asia-Pasifik dari ancaman yang ditimbulkan dari persaingan
negara-negara besar (Major Power). Untuk
mengambil kebijakan, Indonesia dihadapkan dengan pilihan kebijakan bandwagoning dan balancing diantara negara-negara besar dimana Indonesia mengambil
peran penting dalam pembentukan arsitektur regional dimasa mendatang.
Maksudnya,Indonesia harus dapat merangkul negara-negara besar di kawasan
Asia-Pasifik untuk membentuk sebuah ikatan yang dapat memperkuat kestabilitasan
kawasan.
Tidak hanya itu,
krisis ekonomi Indonesia yang terjadi pada 2 periode (Tahun 1997-1998 dan Tahun
2008) yang pernah mengancam kestabilan ekonomi Indonesia. Dalam hal ini politik
luar negeri Indonesia juga perlu difokuskan kearah forum global untuk upaya
penyelesaian krisis ekonomi global yang
mungkin dapat terjadi dimasa depan.
Keterlibatan Indonesia dalam G-20
Pada masa
pemerintahan presiden SBY, Indonesia mengalami kenaikan GDP sebesar 854 U$$
Miliar serta berhasil menduduki peringkat ke-16 ekonomi terbesar di dunia dan
Indonesia adalah satu-satunya anggota Asean yang terlibat dalam G-20 (Firmanzah
2012). Indonesia resmi bergabung dalam forum G-20 pada tahun 1990 sebelum masa kepemimpinan SBY namun pada
saat itu Indonesia masih belum dikatakan aktif . pada masa kepemimpinan
presiden SBY, politik luar negeri Indonesia difokuskan untuk berperan aktif
dalam G-20 sebab dengan berperan aktif dalam G-20, Indonesia dapat membuka
jalan dalam memperluas jaringan diplomasi yang akan mempermudah Indonesia untuk
menghadapi masalah yang terjadi di dunia internasional.
Tidak hanya itu,
Indonesia memiliki tiga kepentingan lain yang dapat menjadi sebab Indonesia
untuk aktif dalam forum G-20, yaitu: (1) Untuk mempermudah penanganan krisis
ekonomi. Indonesia pernah mengalami krisis ekonomi secara besar-besaran pada tahun 1997 sampai 1998 yang dipicu oleh
jatuhnya kurs rupiah terhadap dollar Amerika yang dimana hal tersebut
menyebabkan adanya krisis ekonomi, sosial, politik, budaya dan ketahanan.
Krisis tersebut menjadi sebab lengsernya kepemimpinan presiden Suharto.
Pada tahun 2008,
krisis ekonomi kembali terjadi namun krisis ini tidak separah krisis
sebelumnya. Krisis ini merupakan efek dari krisis finansial yang terjadi di
Amerika Serikat dimana krisis ini membuat para produsen local menghadapi
permasalahan dalam menjual produknya di pasar global karena pada saat itu pasar
global di hegemoni oleh Amerika. Hal ini dapat memicu para pengusaha untuk
membuat kebijakan PHK (Pemutusan Hubungan Kerja) terhadap karyawan dengan skala besar untuk
menutup kerugian. Dengan pengalaman krisis selama dua periode ini, Indonesia
memutuskan untuk berperan aktif dalam forum G-20 dan berkontribusi penuh dalam
pembentukan arsitektur ekonomi global yang diharapkan dapat mengatasi krisis
serupa yang mungkin akan terjadi di masa depan. (2) Sebagai cara untuk meningkatkan
daya saing Indonesia di tingkat Internasional. Dengan bergabung dalam forum
G-20, dapat membantu Indonesia untuk mendapatkan posisi dalam bernegosiasi yang
dimana negosiasi tersebut dapat diperhitungkan oleh masyarakat internasional.
Tidak hanya itu,
pendapat Indonesia di dalam forum lebih dihargai dan direspon oleh bangsa-bangsa
lain. (3) Untuk meningkatkan citra Indonesia dimata dunia internasional. Dengan
bergabung dalam forum G-20 Indonesia dapat dipandang sebagai negara yang
demokratik dan hal ini dapat membuat citra Indonesia semakin membaik dimata
negara asing. Tidak hanya itu, dengan memliki citra yang baik, Indonesia dapat
dipercaya oleh investor asing untuk memberikan investasi di Indonesia.
Pola Diplomasi Politik Luar Negeri Presiden SBY.
Pola diplomasi
yang dibentuk oleh presiden SBY disatu sisi hampir menyerupai pola diplomasi
pada masa presiden Soekarno yang dimana pola tersebut sama-sama terfokus pada
masalah-masalah global yang berdampak langsung terhadap Indonesia, misalnya
seperti krisis finansial global. Meski demikian, tidak semua pola diplomasi
presiden SBY menyerupai pola diplomasi presiden Soekarno yang membatasi
Indonesia untuk berkontribusi di dalam komunitas internasional. Pola diplomasi
SBY justru mengupayakan Indonesia untuk berperan aktif di dalam komunitas
internasional serta mencari relasi sebanyak mungkin untuk dijadikan sebagai
mitra yang saling menguntungkan.
Terdapat empat pola diplomasi yang
diberlakukan berlaku pada masa pemerintahan presiden SBY, yaitu: (1) Menciptakan
hubungan kemitraan secara strategis dengan negara-negara besar seperti China,
Amerika Serikat, Jepang, India. (2) Menjadikan ASEAN sebagai pilar utama dalam
politik luar negeri. ASEAN telah ditempatkan sebagai pilar utama politik luar
negeri Indonesia sejak orde baru yang Dimana pada saat itu Indonesia berada
dibawah kepemimpinan presiden Soeharto. Pada masa pemerintahan SBY, ASEAN tetap
dipandang sebagai pilar utama politik luar negeri Indonesia.
Hal ini diperkuat
dengan pernyataan menteri luar negeri, Marty Natalegawa dalam pidato pertamanya
tentang politik luar negeri pada pembukaan ‘Seventh
General Conference Of The Council For Security Cooperation In The Asia-Pasific’
, yang menyatakan bahwa ASEAN akan tetap dijadikan pilar utama dalam politik
luar negeri Indonesia sekaligus menentukan langkah-langkah pembentukan
komunitas ASEAN 2015 (Nartalegawa 2009). (3) Menggunakan G-20 untuk mengatasi
krisis global. (4) Membuat Bali Democrazy Forum untuk mempromosikan demokrasi.
Pada tanggal 10 Desember 2008, forum Bali Democrazy resmi dibentuk. Forum ini
adalah forum yang diciptakan untuk memberikan wadah bagi negara-negara
dikawasan untuk berbagi pengalaman beserta praktek yang dilakukan secara
berdialog antar-pemerintah dalam hal politik terutama dalam mempromosikan
demokrasi kawasan.
Kesimpulan
Politik luar
negeri Indonesia dibawah pemerintahan SBY diupayakan untuk berkontribusi aktif
dalam memecahkan masalah yang terkait dengan hubungan diplomasi internasional.
Dalam konteks internasional, diplomasi Indonesia dihadang oleh dua permasalahan
yang menantang. Pertama, muncul pergeseran kekuatan diantara negara-negara
besar (Major Power) yang dimana
menimbulkan perubahan sistem internasional dari sistem Unipolar menjadi
Multipolar. Kedua, munculnya krisis ekonomi global yang menimbulkan dampak yang
meluas pada perkonomian negara. Kedua, munculnya krisis ekonomi global yang
menimbulkan dampak yang meluas pada perekonomian negara. Kedua hal ini memicu
presiden SBY untuk mengupayakan Indonesia untuk aktif dalam G-20 untuk
mendapatkan relasi sebanyak-banyaknya untuk menghadapi masalah yang mungkin
lebih menantang dibandingkan dengan dua masalah tersebut.
Tidak hanya
menggunakan G-20 untuk mengatasi isu-isu yang terjadi dan berkembang di cakupan
internasional, presiden SBY memberlakukan empat pola dalam politik luar negeri
Indonesia. Pertama, politik luar negeri Indonesia tetap mempertahankan sistem
bebas aktif dengan cara menrangkul dan mengajak kerja sama dengan negara-negara
major power, terutama negara major power yang ada dikawasan. Kedua,
Indonesia tetap menggunakan ASEAN sebagai pilar utama dalam politik luar
negeri. Ketiga, Indonesia menggunakan forum G-20 untuk mengatasi krisis dimasa
depan. Keempat, Indonesia menciptakan dan mengembangkan forum Bali Democrazy
untuk mempromosikan demokrasi kepada negara-negara lain.
Referensi
Andhik, Beni, Saputra.n.d.”POLITIK LUAR NEGERI
INDONESIA DIBAWAH SUSILO BAMBANG YUDHOYONO Tahun 2009-2011”.Si.
Hermawan, Sriyuliani et aI.,2011. Latarbelakang,
Peran dan Tujuan Keanggotaan IndonesiaPeran Indonesia dalam G-20, Friedrich-Ebert-Stiftung Indonesia Office.
Wuryandari, Ganewati . 2008. Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran
Politik Domestik. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Anon,2016. http://www.pengertianmenurutparaahli.net/pengertian-politik-luar-negeri-bebas-aktif-dancontohnya/ [diakses pada 9 November 2017]
Ibrahim, Aji, 2014. http://mysharing.co/politik-luar-negeri-sby-dianggap-berhasil/ [diakses pada 9 November 2017]
Julius, Sitohang, 2014. https://www.kompasiana.com/juliussihotang/melanjutkan-politik-luar-negerisby_54f833c5a3331163648b4b83 [diakses pada 9 November 2017]
Komentar
Posting Komentar