Masa Depan Indonesia dalam Politik Global 2045

Penulis : Karina Novia A. / I72216064

Pasca perang dingin yang terjadi pada awal tahun 90an, kondisi politik global hingga saat ini masih relative “damai”. Yang diindikasikan dengan absennya konflik antar great power dalam tatanan global. Mengapa? Karena di era globalisasi ini dimana semua negara otomatis terkoneksi secara global untuk saling meningkatkan kerjasama yang menguntungkan. Menjadikan hampir setiap negara tengah berfokus untuk membangun pondasi negara masing-masing dalam berbagai bidang. 
Indonesia yang menjadi salah satu anggota dalam organisasi regional (ASEAN) dan organisasi internasional (PBB) dengan nota bene bukan negara super power, melainkan dikenal sebagai Negara middle power. Dimana Indonesia ikut berperan aktif dalam menyuarakan perdamaian dunia, dalam ekonomi internasional, sebagai Negara demokrasi terbesar, dan menjadi salah satu Negara dengan perekonomomian yang stabil dan positif. Dengan begitu bukan berarti ancaman dan tantangan dalam politik global berkurang, tetapi semakin kompleks. Karena proyeksi kekuatan militer dengan perlombaan persenjataan antar Negara dapat memicu konflik di massa mendatang. Karena dalam beberapa tahun terakhir Amerika yang dikenal sebagai Negara super power telah memiliki pesaing dalam kancah politik global. Negara-negara yang memiliki kekuatan ekonomi, peranan dalam politik internasional dan melakukan peningkatan kekuatan militer Adalah Tiongkok, Rusia, Jepang, India, dan Brazil.
Konfigurasi power dalam bidang militer menunjukkan pergeseran dalam politik global. Pada tahun 2008, Amerika Serikat menempati posisi teratas dengan anggaran pertahanan terbesar didunia. Namun beberapa Negara lainnya, seperti wilayah Asia juga memiliki perkembangan yang pesat terhadap militer seiring berjalannya waktu. Khususnya di kawasan Asia dan Australasia dan Timur Tengah, sedangkan kawasan Eropa dan Amerika Utara mengalami penurunan dalam hal tersebut. Selain konfigurasi power, munculnya gerakan populisme radikal yang menekankan nasionalisme dan intoleransi sebagai tantangan bagi demokrasi dan pluralisme. Efek dari populisme radikal yang terjadi di banyak Negara adalah kecenderungan untuk meninggalkan mekanisme unilateral dan bilateral dalam politik global. Hal ini yang menjadi kekhawatiran yang harus dihadapi negara-negara di dunia.
Dalam hal konfigurasi power kekuatan pertahanan, Amerika Serikat masih akan tetap menjadi yang utama. Tetapi, celah kekuatannya akan semakin menipis dibandingkan kekuatan Negara-negara lain. Karena kemungkinan muncul negara-negara pesaing yaitu Rusia, India, Korea Selatan dan Arab Saudi. Dan bisa di bilang bahwa pusat perekonomian akan beralih kewilayah Asia yaitu Tiongkok, Jepang, India, Korea Selatan, dan Indonesia sebagai pemain utamanya. Karena negara-negara tersebut dapat menjadi pemain utama dalam perekonomian dunia, di dukung oleh inovasi teknologi yang telah di mulai sekarang dan di masa yang akan datang dan masih tersedianya sumber daya alam untuk di ekspolitasi serta jumlah populasi di usia produktif yang besar. 
Terkait hal itu, semakin berkembangnya perekonomian, semakin berkurang pula sumber daya alam yang dapat memicu konflik mengenai penguasaan sumber daya alam. Permasalahan lainnya adalah lingkungan hidup yang dapat diatasi dengan kebijakan pembangunan berkelanjutan. Sedangkan, isu terorisme masih tetap eksis sebagai ancaman global.
Dapat dilihat dari paparan prediksi diatas bahwa Indonesia masih memiliki potensi untuk menjadi salah satu aktor kunci dalam politik global. Beberapa langkah yang dapat diambil Indonesia guna menunjang potensinya dalam politik global adalah. Pertama, visi pembangunan yang jelas dalam membangun negara kuat di segala bidang tapi yang harus diutamakan yaitu bidang ekonomi dan pertahanan agar pengaruh Indonesia dalam politik global semakin meningkat serta mampu menangani segala ancaman yang menghadang. Kedua, kita ketahui Indonesia  memiliki sumber daya manusia yang terbilang banyak. Dengan mengoptimalkan atau meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui perbaikan sistem pendidikan, inovasi teknologi, dan kebijakan yang dapat mentransformasikan populasi menjadi kekuatan. Ketiga, tetap berperan aktif dalam mempromosikan perdamaian dunia di kegiatan organisasi regional maupun internasional serta menjalin koneksi yang baik dengan negara-negara lain.
Referensi
Mangadar Situmorang, Ph.D., Agustus/September 2017, Indonesia Dalam Politik Global 2045, s.l.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking