Indonesia dalam Politik Global 2045

    Penulis : Khoiri Amanah / I72216065

     Pasca perang dingin ke dua, semua Negara fokus dalam membangun perekonomian, saling menciptakan kerjasama antar Negara dalam berbagai bidang dan kesepakatan antar Negara sebagai pengaturan global dalam berbagai bidang. Namun, hal tersebut tidak mudah  seperti yang kita bayangkan, karena kondisi dunia terdapat banyak sekali ancaman keamanan yang berasal dari aktor non-negara, seperti munculnya ancaman dari terorisme global dari Al-Qaeda yang dituding berada dibelakang aksi 9/11 pada tahun 2001, ISIS yang menggabungkan metode terrorisme dan insugerensi, hingga gerakan afilasinya ditingkatan regional seperti jamaah islamiyah di Asia Tenggara. Lalu dengan kondisi seperti ini, bagaimana kondisi politik global dan peran serta posisi Indonesia pada tahun 2045?
Kondisi politik global pasti berubah karena ada kepentingan Negara untuk meraih power dalam bidang militer, contohnya pada tahun 2008 di posisi tiga diperoleh Tiongkok sebagai Negara yang memiliki anggaran pertahanan sebesar 6,01 miliar dollar AS, atau sebesar 1,4 persen dari GDP, lalu di posisi kedua diperoleh Inggris yang memiliki aggaran pertahanan sebesar 71,4 miliar dollar AS atau sebesar 2,7 persen dari GDPnya. Dan di posisi pertama diperoleh Amerika Serikat sebagai Negara anggaran pertahanan terbesar di dunia dengan anggaran sebesar 696,3 miliar dolar AS atau setara dengan 4,9 persen dari GDP yang dimilikinya. Namun, pada tahun 2016 posisi tersebut berubah, Tiongkok yang awalnya posisi ketiga menjadi posisi kedua dengan anggaran pertahanan sebesar 89,8 miliar dollar AS, dan posisi ketiga diperoleh inggris dengan pertahanan sebesar 62,7 miliar dan diposisi pertama tetap ditempati oleh Amerika Serikat dengan anggaran pertahanan sebesar 739,3 miliar dollar AS.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Meskipun Indonesia berada di posisi diluar 10 besar negara dengan anggaran pertahanan terbesar dunia, Indonesia tetap mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Pada tahun 2008, Indonesia memiliki anggaran pertahanan sebesar 3,4 miliar dollar AS atau sebesar 0,66  persen dari GDP nasional . dan pada tahun 2016 anggaran pertahanan Indonesia menjadi 8,17 miliar dollar AS atau sebesar 0,87 persen dari GDPnya.
Selain karena ada kepentingan Negara untuk meraih power dalam bidang militer, juga terdapat beberapa fenomena global, seperti munculnya gerakan populisme radikal yang menekankan nasionalisme dan intoleransi sebagai tantangan demokrasi dan pluralisme, seperti  keluarnya Inggris dari Uni Eropa yang dikenal dengan brexit, menangnya Donald trump sebagai presiden Amerika Serikat yang menekankan kepada nasionalisme masyarakat kulit putih, munculnya Marine Le Pen di Perancis yang mengusung semangat nasionalis dan skeptis terhadap Uni Eropa, kebijakan pelarangan pemakaian hijab di Belanda, dan sebagainya. Dampak dari populisme radikal di banyak negara adalah kecenderungan untuk ditinggalkannya mekanisme multilateral serta penekanan kepada mekanisme unilateral dan bilateral dalam politik global,  dan yang lebih buruknya semakin meningkatnya ancaman terorisme yang beroperasi lintas batas Negara, seperti terjadi pengeboman di Indonesia tepatnya di plaza sarinah pada januari 2016, serangan kampung melayu pada mei 2017.
Penjelasan tentang kondisi – kondisi saaat ini dapat menjadi gambaran politik global pada tahun 2045 dalam hal kekuatan pertahahan, Amerika Serikat akan tetap menjadi kekuatan nomer satu, dan Tiongkok akan menyelesaikan proyeksi kekuatan angkatan laut nya menjadi blue water navy, kekuatan armada laut yang dapat bertahan mengarungi samudra dan laut dalam, yang saat ii hanya dimiliki oleh Amerika Serikat. Dan pusat perekonomian akan bergeser ke wilayah Asia, seperti Tiongkok, Jepang, India, korea selatan, dan Indonesia. Negara-negara tersebut  akan memiliki share ekonomi yang besar karena didukung oleh inovasi teknologi dan masih tersedia nya sumber daya alam yang bisa di eksploitasi dan dukungan populasi usia produktif yang besar.
 Jadi, pada tahun 2045 permasalahan yang muncul adalah menipisnya sumber daya alam, sehingga salah satu penentu power Negara adalah  sumber daya manusia yang dimilikinya. Sedangkan isu terorisme kemungkinan juga tetap ada, dan perkembangan paham radikal berbasis agama akan semakin intens karena disebar melalui teknologi informasi yang semakin canggih.  Dan peran Indonesia pada tahun 2045 sudah terlihat, bahwa Indonesia bisa menjadi salah satu aktor kunci dalam politik global. Tahun 2045 memang akan menjadi periode emas bagi Indonesia, dengan memilik pendduk hingga 309 juta jiwa, Indonesia diprediksi akan menjadi Negara dengan ekonomi terbesar ke empat di dunia dengan  Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai 9,1 triliun dolar AS atau Rp120 ribu triliun[1]. Untuk sukses menjalankan peran sebagai actor kunci dalam politik global, Indonesia harus memiliki visi ke depan dalam kebijakan pembangunannya, memiliki kemampuan mentransformasikan modal populasinya menjadi power melalui sistem pendidikan dan kebijakan pembangunan yang berkelanjutan serta penguasaan teknologi informasi agar dapat bersaing dengan kekuatan- kekuatan di dunia, harus tetap berhubungan baik dengan semua Negara di dunia dan berperan aktif dalam mempromosikan perdamaian dunia melalui pendekatan yang bersifat multilateral baik dalam tataran regional maupun global. Dan juga Indonesia dapan menjadi contoh bagi Negara – Negara lain sebagai Negara yang berkomitmen dan mempromosikan teraplikasinya norma-norma dan aturan internasional, dan jadi contoh perkembangan demokrasi dunia yang mendasarkan dirinya kepada moderasi umat beragama, toleransi antar kolompok berdasarkan rule of law dan terjaminnya kebebasan masyarakat.
Dan presiden kita saat ini, bapak Jokowi Widodo sudah merencanakan visi ke depan dalam kebijakan pembangunannya dengan tiga tahap, yaitu pada 10 tahun pertama, pembangunan infrastruktur menjadi target utama yang harus di selesaikan. Sebab dengan pembangunan infrastrutur yang berkelanjutan bisa menurunkan biaya logistic dengan semakin mudahnya keterjangkauan. Lalu membangun industri pengolahan pada 10 tahun kedua, agar Indonesia tidak lagi menjual Sumber Daya Alam yang masih mentah, tapi sudah melalui proses pengolahan sehingga memiliki nilai tambah, setidaknya barang minimal setengah jadi, lalu 10 tahun ketiga mengembangkan industri jasa, karena Indonesia memiliki potensi yang luar biasa seperti sektor pariwisata dan diharapkan bisa menumbuhkan investasi sektor pendukung. Dan kita sebagai rakyat juga harus optimis dan berpartisipasi dalam kebijakan-kebijakan apa yang dibuat oleh pemerintah untuk mencapai Negara ekonomi terbesar ke empat di dunia pada tahun 2045.



[1] http://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/3458166/jokowi-ri-akan-masuk-4-besar-ekonomi-dunia-di-2045

Referensi
Mangadar Situmorang, Ph.D., Agustus/September 2017, Indonesia Dalam Politik Global 2045, s.l.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking