Indonesia dalam Politik Global 2045

Penulis : Mohammad Rahadian Surya / I72216070

Dengan berakhirnya perang berkepanjangan antar dua negara super power dalam Perang Dingin, yaitu Amerika Serikat dan Uni Soviet, banyak negara di dunia menikmati masa dimana intensitas konflik antar negara cenderung rendah. Maka, di masa yang cenderung “damai” ini, negara-negara bebas memrioritaskan kegiatan perekonomian demi kesejahteraan negara itu sendiri dan aktif di kancah internasional, termasuk negara Indonesia yang menunjukkan tren positif dalam perkembangan ekonominya. Meskipun begitu, potensi-potensi konflik dan isu tradisional masih menghantui apa yang kita sebut sebagai masa damai. Ini dibuktikan dengan munculnya beberapa negara super power baru yang membayang-bayangi Amerika Serikat di sektor politik global, ekonomi hingga militer, seperti Tiongkok, India, Rusia, hingga Brazil. Tak lupa juga isu-isu non-tradisional yang semakin giat menunjukkan eksistensinya, seperti isu imigran, perubahan iklim, hingga terorisme.
Aspek military power dalam perpolitikan global masih menempatkan Amerika Serikat menjadi pemuncak posisi dalam dekade ini dengan anggaran militer di tahun 2016 sebesar 611,19 miliar dollar AS, dengan share sebesar 37 persen dari total anggaran militer dunia (data bersumber dari SIPRI – Stockholm International Peace Research Institute). Namun, dengan emerging forces seperti Tiongkok, Rusia, dan lain-lain, bukan tidak mungkin gap kekuatan militer antara Amerika Serikat dengan negara emerging forces lain akan semakin menipis. Rasanya, Amerika Serikat telah menyoroti rival tradisionalnya, yaitu Tiongkok dan Rusia, dalam aspek kekuatan militer, dengan masing anggaran militer sekitar 215,18 miliar dollar AS dan memiliki share sekitar 17 persen dan tiap tahun semakin bertambah, serta Rusia sebesar 69,2 miliar dollar AS yang memiliki share sebesar 4,2 persen.
Dalam bidang ekonomi, top-three negara dengan GDP terbesardi tahun 2016, berdasarkan data dari World Bank, ditempati oleh Amerika Serikat dengan GDP sebesar 18,5 triliun dollar AS, disusul dengan Tiongkok dengan GDP sebesar 11,2 triliun dollar AS dan Jepang sebesar 4,9 triliun dollar AS. Selain negara-negara tersebut, terdapat beberapa negara yang dalam sisi ekonomi berkembang pesat, seperti India yang pada tahun 2010 berada pada posisi ke-9 dengan GDP 1,7 triliun dollar AS naik menjadi posisi ke-7 pada tahun 2016 dengan GDP 2,2 triliun dollar AS. Indonesia pada tahun 2016 naik 2 posisi menjadi rangking ke-16 dengan GDP 932 miliar dollar AS. Dari gambaran tersebut, peluang untuk muncul sebagai salah satu negara dengan kekuatan ekonomi dunia dan potensi untuk berkembang sangat terbuka lebar, seperti India, Indonesia dan Tiongkok.
Selain konfigurasi kekuatan antar negara, terdapat beberapa fenomena yang terjadi dalam politik global dewasa ini. Pertama, munculnya gerakan populisme radikal yang mengusung nasionalisme dan intoleransi, dan tendensi terhadap kebijakan jangka pendek. Dimulai dari calon presiden Perancis Marine Le Pen yang mengusung semangat nasionalis dan skeptis terhadap Uni Eropa dengan mengadakan referendum serta keluar dari struktur komando militer NATO, dan membuat kebijakan untuk mempersulit dan membatasi syarat para pencari suaka hingga imigran di Perancis (Namun, beliau kalah dalam pilpres Perancis). Tak lupa juga dengan terpilihnya terpilihnya Presiden Amerika Serikat ke-45, Donald Trump, yang menekankan white supremacy (supremasi kulit putih) serta mengusung kebijakan isolasionisme dengan keluar dari kerjasama atau organisasi yang bersifat multirateral, seperti Trans-Pacific Partnership serta Paris Climate Agreement.
Kedua, semakin meningkatnya ancaman terorisme seiring dengan munculnya kelompok-kelompok teror dan radikal, serta kelompok separatis dan kelompok teror ‘ecek-ecek’ yang berafiliasi dengan kelompok teror lainnya atau yang lebih besar dan berpengaruh. Dimulai dari kelompok Maute dan Abu Sayyaf di Filipina, kelompok Santoso di Indonesia, kelompok Boko Haram di Nigeria yang berafiliasi dengan ISIS.
Dengan gambaran diatas, proyeksi politik global pada tahun 2045 dalam aspek military power, Amerika Serikat masih menjadi nomor satu. Namun, kemungkinan besar Tiongkok akan terus membuntuti Amerika Serikat dalam hal kekuatan militer, mengingat anggaran militer Tiongkok terbesar ke-2 setelah Amerika Serikat dan terus bertambah tiap tahunnya. Terlebih, dalam 2 dekade kedepan, People Liberation Army’s Navy (Angkatan Laut Tiongkok) diproyeksikan menjadi blue water navy, yang mana kemampuan tersebut hanya dimiliki oleh Amerika Serikat seorang. Meskipun begitu, langkah Tiongkok untuk menyusul Amerika Serikat masih terbilang jauh. Pengalaman, teknologi hingga doktrin yang belum matang masih menjadi batu penghalang PLA –People Liberation Army (Angkatan Bersenjata Tiongkok) agar bisa mendahului, atau setidaknya bisa menyamai kapabilitas U.S. Armed Forces (Angkatan Bersenjata Amerika Serikat).
Proyeksi ekonomi pada tahun 2045 pun juga berubah, seperti proyeksi militer dalam politik global. Diprediksikan bahwa kekuatan ekonomi akan bergeser di Asia, seperti India, Tiongkok, Jepang, hingga Indonesia. Populasi yang besar dan sumber daya yang masih melimpah menjadi dua alasan dasar mengapa kekuatan ekonomi dunia akan bergeser, dari Eropa-Amerika ke Asia. Dengan kondisi Indonesia yang sangat strategis; usia produktif cenderung banyak serta sumber daya alamnya yang banyak, tentu dapat membuat Indonesia sebagai salah satu kunci dalam politik global. Dengan sendirinya, ketika aspek ekonomi diutamakan, maka aspek power Indonesia akan meningkat juga.

Referensi
Mangadar Situmorang, Ph.D., Agustus/September 2017, Indonesia Dalam Politik Global 2045, s.l.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEBIJAKAN LUAR NEGERI INDONESIA TERHADAP ISU TENAGA KERJA CINA DI INDONESIA: PERSPEKTIF INDONESIA

Politik Luar Negeri Indonesia Era Jokowi: Indonesia Sebagai Poros Maritim Dunia

Kerjasama Indonesia-Australia Dalam Menanggulangi Human Trafficking