Indonesia dalam Politik Global 2045
Penulis : Winda Dwi Yuliyanti / I72216080
Saat
ini kondisi politik yang terbilang ‘damai’ dengan ditandainya kerjasama,
kesepakatan, dan perjanjian yang dibangun antar negara diberbagai bidang
menunjukkan bahwa paham liberalisme masih dianggap sebagai paham yang terbaik
dalam mencapai kesejahteraan negara. Indonesia sebagai salah satu negara yang
tergabung dalam organisasi regional (ASEAN) dan organisasi internasional (PBB) turut
serta berperan aktif dalam menyuarakan perdamaian dunia dan membentuk kerjasama
ekonomi, sosial, budaya antar negara-negara di dunia. Indonesia sebagai negara
demokrasi terbesar dengan jumlah penduduk dan sumber daya yang besar dipandang
menjadi negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi positif dan stabil. Namun,
ancaman dan tantangan dalam politik global yang semakin kompleks, seperti
terorisme global serta permasalahan global lainnya, seperti isu kemanusiaan,
perubahan iklim, perang sipil, dan lain-lain yang dapat mengakhiri kondisi
‘damai’ dalam politik global di masa yang akan datang. Politik global yang
dinamis tidak hanya memicu permasalahan yang kompleks, tetapi juga perkembangan
yang pesat di berbagai bidang yang dilakukan negara-negara di dunia. Amerika
Serikat yang disebut great power
dalam politik global mulai tergeser oleh kekuatan-kekuatan baru, diantaranya
Tiongkok, Rusia, Jepang, India, dan Brazil.
Konfigurasi
power dalam bidang militer
menunjukkan pergeseran dalam politik global. Pada tahun 2008, Amerika Serikat
menempati posisi teratas dengan anggaran pertahanan terbesar didunia. Posisi
kedua dan ketiga ditempati oleh Inggris dan Tiongkok. Namun, Tiongkok berhasil
menggeser Inggris pada tahun 2016 sehingga Tiongkok menempati posisi kedua
menyusul AS, sedangkan Inggris menempati posisi ketiga. Negara lain yang
meningkatkan anggaran pertahanannya adalah Rusia, Arab Saudi, Korea Selatan dan
India. Indonesia juga meningkatkan anggaran pertahanan yang pada tahun 2008
sebesar 3,4 miliar dolar AS meningkat hingga 8,17 miliar dolar AS. Jika dilihat
dari besaran anggaran pertahanan berdasarkan share per-kawasan, yang pada tahun 2011 Amerika Utara menempati
posisi pertama dengan share sebesar
47 persen mengalami penurunan menjadi 40 persen pada tahun 2016. Sedangkan,
pada tahun 2011 posisi kedua ditempati Asia dan Australia sebesar 18,5 persen,
lalu posisi ketiga ditempati oleh Eropa sebesar 18,3 persen. Namun, pada tahun
2016 Asia dan Australia meningkat dengan share
sebesar 23,8 persen, sementara itu Eropa mengalami penurunan menjadi 16,1
persen. Peningkatan yang signifikan juga dialami oleh kawasan Timur Tengah dan
Afrika Utara sebesar 7,9 menjadi 10,9.
Dalam
aspek ekonomi, pada tahun 2010, AS menempati posisi pertama dengan GDP
terbesar, disusul Tingkok dan Jepang pada posisi kedua dan ketiga. Pada tahun
2016 tidak ada perubahan yang signifikan pada tiga besar negara tersebut.
Indonesia yang pada tahun 2010 menempati posisi ke-18 meningkat menjadi posisi
ke-16 pada tahun 2016. Selain itu, India dan Korea Selatan juga mengalami
peningkatan GDP yang signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa, politik global yang
sangat dinamis dan kompleks akan memunculkan negara-negara dengan ekonomi yang kuat
selain Amerika Serikat, seperti Tiongkok, India, Korea Selatan, serta
Indonesia. Selain kemajuan dan kemunduran dalam bidang militer dan ekonomi,
fenomena politik juga mulai muncul di beberapa negara. Contohnya, munculnya
populisme radikal yang menekankan nasionalisme dan intoleransi sebagai
tantangan bagi demokrasi dan pluralisme, seperti keputusan warga Inggris yang
keluar dari Uni Eropa (Brexit), terpilihny Donald Trump sebagai presiden AS
yang menekankan kepada masyarakat berkulit putih, kebijakan pelarangan
pemakaian hijab di Belanda, pemerintahan Erdogan di Turki, Bashar Al-Assad di
Suriah. Dampak dari populisme radikal ini adalah mulai ditinggalkan mekanisme
regional dan multilateral yang cenderung menuju mekanisme unilateral dan
bilateral. Hal ini ditandai dengan AS yang memutuskan untuk keluar dari forum Trans-Pacific Partnership dan Paris Climate Agreement. Selain itu,
fenomena meningkatnya ancaman terorisme dari Al-Qaeda bergeser ke ISIS yang
semakin gencar dilakukan di beberapa negara. Mayoritas aksi terorisme terjadi
di Irak, Afghanistan, India, Pakistan, dan Filipina.
Paparan
diatas dapat menjadi dasar bagi gambaran politik global pada tahun 2045.
Dilihat dari kekuatan pertahanan, kemungkinan besar Tiongkok bisa mengimbangi
kekuatan Amerika Serikat, sebab pada tahun 2030 Tiongkok akan menyelesaikan
proyek Angkatan Lautnya menjadi blue
water navy, yang saat ini hanya dimiliki oleh AS. Rusia, India, Korea
Selatan, dan Arab Saudi kemungkinan besar akan menjadi kekuatan dalam bidang
pertahanan sebab peningkatan anggaran pertahanan yang signifikan serta persepsi
ancaman dari negara tetangga. Sedangkan negara-negara Eropa seperti Perancis,
Jerman, dan Inggris yang menempati 10 besar akan mengalami stagnasi dalam
militer maupun ekonomi. Kekuatan akan beralih ke kawasan Asia dan Timur Tengah
yang memiliki pertumbuhan pesat di bidang militer maupun ekonomi. Sejalan
dengan hal tersebut, pada Tahun 2045, pusat perekonomian akan beralih ke negara di kawasan Asia, seperti
Tiongkok, China, Korea Selatan, dan Indonesia. Negara-negara tersebut didukung
dengan teknologi, sumber daya manusia yang produktif serta sumber daya alam
yang cukup melimpah. Pada tahun 2045, negara dengan populasi yang besar
diperkirakan akan menjadi negara yang kuat apabila mereka mampu mengembangkan
populasi itu sebaik mungkin melalui inovasi pendidikan, teknologi, dan
kebijakan berkelanjutan agar modal dapat bertransformasi menjadi kekuatan.
Terkait hal itu, semakin berkembangnya perekonomian, semakin berkurang pula
sumber daya alam yang dapat memicu konflik mengenai penguasaan sumber daya
alam. Permasalahan lainnya adalah lingkungan hidup yang dapat diatasi dengan
kebijakan pembangunan berkelanjutan. Sedangkan, isu terorisme masih tetap eksis
sebagai ancaman global.
Tahun
2045, Indonesia bisa menjadi aktor utama politik global jika Indonesia memiliki
visi pembangunan ekonomi dan militer yang beriringan dan berkelanjutan. Indonesia
yang memiliki sumber daya manusia yang banyak juga harus bisa meningkatkan
kualitas SDMnya melalui perbaikan sistem pendidikan, inovasi teknologi, dan
kebijakan yang dapat mentransformasikan populasi menjadi kekuatan. Indonesia
harus tetap berhubungan baik dengan negara-negara lain yang bersifat bilateral,
regional, maupun multilateral. Selain itu, Indonesia sebagai negara demokrasi
harus menjadi contoh bagi dunia yang memiliki toleransi umat beragama, maupun
kelompok. Sementara itu, Indonesia yang tergabung di ASEAN akan tetap menjadi
pemain kunci di ASEAN pada tahun 2045 sebab keaktifan Indonesia dalam
forum-forum maupun kesepakatan ASEAN.
Dilihat
dari gambaran diatas, peluang dan ancaman pasti beriringan dalam politik global
sebab dinamika internasional sangatlah kompleks. Dalam bidang ekonomi,
liberalisasi ekonomi masih tetap mendominasi perekonomian dunia sebagai
pemenuhan kebutuhan suatu negara. Sedangkan dalam bidang militer, yang saat ini
balance of power bisa bertransformasi
menjadi pemicu konflik di masa yang akan datang karena tiap negara mulai
meningkatkan kekuatan pertahanannya. Mengenai regionalisme dan multilateralisme
yang semakin pudar, ASEAN tetap eksis dan bertahan dengan 10 anggota
menunjukkan bahwa semangat regionalisme masih membara di Asia Tenggara yang
mungkin bisa mempengaruhi kawasan lain dalam membentuk organisasi regionalisme
dalam menghadapi dinamika Internasional. Dalam menanggapi isu-isu dunia, PBB
sebagai organisasi multilteralisme telah mencanangkan 17 tujuan dalam
pembangunan berkelanjutan yang dapat diterapkan di negara anggota, termasuk
Indonesia agar mencapai tiga pilar utama pembangunan berkelanjutan, yakni economic, social, and environmental
sustainability.
Referensi
Mangadar Situmorang, Ph.D., Agustus/September 2017, Indonesia Dalam Politik Global 2045, s.l.
Komentar
Posting Komentar